Wednesday, October 12, 2011

"TENTANG HIDUPKU"


Karya : Susi Puji Rahayu           
Ketika pagi masih ada aku terbangun dan bertanya tentang diriku, di kepalaku terisi
  “ Dimana keluargaku ?? ” tiba-tiba datang seorang pria yang juga orang tuaku sendiri, ternyata aku masih ingat dengannya, tapi hatiku masih menyimpan tanya ?_? tersentak aku bangun segera dari tempat tidurku dan aku tanyakan kepadanya (Bokap).
            “ Yah, dimana Bunda? ” tanyaku dengan suara mengantuk dan berbisik dalam hati, dengan perasaan gelisah juga takut.
            “ Bunda.....sudah tidak ada nak ” jawab Bokap dengan memandangi aku dan membelai rambutku bersama perasaan ibanya kepadaku, tersadar dari diam dan tanyaku dengan perasaan sedih, aku menangis di hati nuraniku, berlalu aku dari tempat itu, tapi aku coba terima kenyataan.
            “ Nek, lagi apa Pean ? ” tanyaku kepada nenekku yang saat itu masih hidup dengan aku.
Oh ya.......ini cerita hidupku ditahun 2000.
            “ Nenek, masak nak ” jawab nenekku yang sudah tua tapi belum terlalu pikun. disaat itu aku belum sekolah masih kecil paling-paling umur 4 – 5 tahunan.
Saat itu aku masih nakal-nakalnya dan sangat menyusahkan, disaat pagi itu aku masih bertanya-tanya sambil duduk di depan TV kuno yang sepertinya sudah jadi kebiasaan bagiku setiap pagi, aku saat itu masih belum logis dan seneng-seneng aja dengan hidupku. Saat aku nonton TV aku sudah lupakan kata-kata yang bokap bilang tadi. Aku masih ceria dengan wajahku yang menyenangkan meskipun tak cukup membanggakan.
            Sesaat kemudian aku ingin menghampiri bokap lagi, tapi sifatku yang manja muncul
            “ Yah, ayah kesini, aduch  kesini kok!! ” seru panggilku merengek.
            “ Kesini sendiri, ayah lagi sibuk ” sahut bokap dengan pelan penuh kasih sayang, tapi aku tetep aja memaksa
 “ Aduch, kesini kok......!! ” rengekku dengan suara manja.
            “ Nggak mau, kesini sendiri ya udah, ayah tak mau ke situ. Jangan manja-manja!! ”
sentak bokap yang sudah bosan dengan rengekanku, tapi aku terus saja malah menangis keras dan mengeluh. Kemudian nenekku menyahut dengan suara lembut dan sayang kepadaku.
            “ Kesini nak, jangan nagis sudah-sudah, kesini nenek gendong ” tegur nenek menghampiriku, aku digendong olehnya sampai aku diam menangis. Tapi ya itulah kebiasaanku, dan itu pun karena rasa sayangku kepada Bokap yang sangat amat dalam begitu pula rasa takutku kehilangan orang tuaku satu-satunya.
Oh ya......aku itu tinggal berempat dengan Ayah, Kakak laki-laki, Nenek, Aku sendiri (hehehe ☺). Masa lalu kecilku dulu sangat rumit, karena aku hidup diantara 4 dunia yang berbeda didalam mimpi yang berbeda, tapi aku jalani dengan senang hati dan tidak ingat lagi bagaimana aku dulu?.
Dimasa lalu sangat suram untuk masa depanku sekarang. Pergaulanku yang bebas dan tidak terbatas membuatku kenal dengan hal yang buruk menyakitkan hati juga diriku.
            Disaat beranjak SD dan dewasa, aku pernah melakukan hal-hal yang tak lazim dan berdusta dengan Tuhanku sendiri begitu pula dengan orang tua yang aku sayangi.
Keluargaku saat itu jadi semakin berantakan tak seperti dulu, tapi aku beruntung masih banyak orang yang sayang sama aku, itupun dalam jumlah sedikit, aku sering menangis meratapi nasibku sendiri.
            Malam hari tiba, kakakku marah-marah (seperti biasanya setiap hari jam dan menit, tak pernah berhenti kalau belum mendapatkan maunya / waktu mengantuknya) dengan nada keras
            “ Yah, aku minta uang, cepetan ” sentak kakak kepada Ayah.
Tapi Ayah terus menanggapi dengan hati yang tenang dan sabar sampai berhenti. Aku pun tak pernah tenang hidup serumah dengan kakak, pernah waktu aku sedang dirumah, aku bercanda dengan dya (kakak), tapi tiba-tiba canda itu menjadi tangis, karena dya selalu memukul aku kalau tidak terima dengan candaku. Disaat itu aku berani bertanya kepada Tuhan waktu aku sedang sholat.....
            “ Ya Allah, aku ingin keluargaku bahagia, tapi kenapa Engkau buat keluargaku berantakan lagi ya Allah, sudah tidak kuat lagi dengan keadaan ini “. Do’aku dengan hati terisak gelisah.
            Suatu hari kakak marah-marah lagi, entah waktu itu minta apa kepada Ayah. Waktu itu aku dikamar, tapi tiba-tiba saja kakak mengusir ayah dari rumahnya sendiri dan ayah diam saja, nenekpun ikut menyalahkan kakak, dan tetangga-tetangga sudah biasa mendengar pertengkaran antara ayah dan kakak setiap hari, kemudian ayahpun keluar rumah menuruti kemauannya kakak yang sangat keterlaluan, akupun menangis dan sedih mendengar itu semua, terfikir di kepalaku
            “ Kakakku sungguh durhaka, aku benci banget sama dya ” aku pun berkata
            “ Yah, jangan pergi, mau kemana pean?, jangan tinggalkan aku yah ” rengek aku sambil berteriak, karena rasa takut dan sayangku untuk orang tua meski tanpa bunda
            “Sudah diam saja nak disitu, ayah akan menuruti kemauan kakakmu, mungkin itu lebih baik ” sahut ayah sambil berjalan, tapi tetap aku mencegah dan menangis di dalam kamarku, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan saat itu. Kakakku tak pernah mencoba menyadari kesalahannya keesokkan kembali seperti semula.
            Di hari-kehari aku selalu tersiksa, setiap punya salah sedikit aku selalu di pukul dan dianiaya (meskipun kecil siksaannya tapi aku perempuan yang  masih SD dan manja) sampai menangis, setiap kali nasehat-nasehat yang keluar dari mulut ayah pasti terabaikan olehnya, itupun terjadi berkali-kali hampir setiap hari.
            Suatu hari aku berfikir “ SEANDAINYA BUNDA MASIH ADA PASTI HIDUPKU SELALU BAHAGIA” tapi aku menyangkalnya “ SEMOGA AJA MENREKA BOHONG DAN SEBENARNYA BUNDA ITU MASIH ADA TAPI DILUAR SANA ” dan saat itu juga aku selalu menganggap bahwa bunda masih ada dengan aku dan aku merasakan itu. Didalam hati kecilku aku berharap bunda memang benar-benar masih ada dan aku merindukannya. Gunggamku dalam hati sejenak.
            Sampai tahun ini dan saat ini aku tetap berharap begitu bertahun-tahun, aku berusaha mencoba untuk melupakan angan itu. Ketika aku Sekolah Dasar aku berusaha bahagia dengan arah hidupku yang kian hari kian berubah berkelabu menimbun semua harapan untuk hidup bebas.
            Menjelang kelas 6 SD aku mulai menyadari bahwa aku hidup dalam kenyataan yang pahit yaitu “ HIDUP TANPA DISAYANGI OLEH BUNDA YANG  AKU HARAPKAN SELAMA INI ” aku mulai tulus menjalani akhir kisahku di SD. Aku selalu berdo’a tiap melakukan sholat dan dalam do’aku tersirat “BUNDA AKU SANGAT RINDU KEPADAMU”. Aku dan hariku kini tidak bisa indah selalu memendam kisah pedih dalam hati. Akupun berusaha tertawa di hadapan teman-temanku. Menjelang kelulusan SD aku serius belajar dan mempunyai harapan untuk membuat ayah bangga dan bahagia dihadapanku. Dan pada akhir wisuda SD ternyata aku tidak menduga, perasaanku sangat bahagia. Aku mendapat peringkat yang ke 2. Disitulah ayahku sangat senang, aku melihat senyumnya dalam hari-hari sedihnya.
            “ Alhamdulillah ya ..............Allah terima kasih atas kesempatan ini ” kataku dalam hati. Memang benar kalau kita minta dukungan kepada orang tua kita terutama ibu kita pasti terkabulkan.
            “Bunda, terima kasih atas do’amu kepadaku, aku sayang padamu bunda” seruku sambil bersyukur didalam benakku.
            Menjelang SMP, aku sudah mengenal arti kasih sayang dan cinta, mengenal sahabat dan teman sebagai kisah dalam sepiku yang mengarungi hari-hariku. Kisahku dikelas 7 sangat tidak menarik dan membosankan!
            Menjelang kelas 8 aku berubah drastis dari keluar kelas 7 aku yang pendiam dan tidak terlalu menyusahkan, kini menjadi liar, nakal dan berantakan tapi sifatku semakin asyik. Aku sekarang punya 2 sahabat, mereka adalah Rizka dan Ekhy, mereka adalah sahabatku saat kelas 8. Kita jalani suka, senang, sedih inilah kisahku dan teman-temanku.
            Waktu di sekolah kita selalu mondar-mandir berjalan mengelilingi semua ruangan yang ada di sekolah ini, Rizka yang penampilannya simpel tapi ndak ribet, karena selalu sensi dengan rambutnya. Sewaktu dikamar mandi........
            “ Aduch....rambut ini mau diapain ya? ! ” kata Rizka sambil menyisir rambutnya.
            “ Ya,....masak dimakan! ” sambung Ekhy dengan tawanya, setelah itu kita berjalan lagi sambil mengobrol tentang hal-hal yang menurutku tak penting juga.
Karena aku berteman dengan mereka aku kini menjadi cewek yang percaya diri. Selain mereka aku juga memiliki sahabat lain diluar mereka, dia sahabat yang sejak kecil sudah bersamaku sampai saat ini, tapi dia jauh disana.
Kini disaat kesepianku menjalani hari di rumah sendirian aku selalu ingat dengannya ketika di rumah.
            “ Sahabatku, aku rindu kepadamu!? ” pinta hati kecilku. Tapi di saat ini pun masih merindukan bunda, aku sangat iri melihat mereka.
            “ Bagaimana ya......rasanya punya ibu, dan gimana ya......di sayangi seorang ibu? ”
tanyaku dalam hati merenungi nasibku yang dari kecil tak pernah tau rasanya kasih sayang dari seorang bunda yang aku cintai.
Tiba-tiba ayahku datang menghampiri aku.
            “ Sedang apa............. si? ”tanya bokap
            “ Ndak ngapa-ngapa yah ” jawabku sembari pergi meninggalkan tempat ku tadi menuju kamar.
            Hidupku sekarang berubah sifat pemalu dan penakut yang kini aku miliki kini hilang. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, sejak aku merasakan penderitaan hidup dan penyesalanku selama ini bahwa “ AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGALAH KEPADA ORANG LAIN YANG TAK SUKA DENGANKU, KARENA AKU BENCI MENGALAH DAN DIKALAHKAN ”.!!!
            Setiap aku bertengkar dengan kakakku, aku selalu melawannya, tak peduli dia saudaraku atau bukan karena dia selalu menjelek-jelekkan aku.
            “ Kamu jangan cerewet....sudah diam, tak hajar nanti kamu!! ” kakakku mengancam dengan suaranya yang kasar.
            “ Babah.....!! biarin, kamu yang mulai duluan ”. aku menyindir dengan nada kesal dan ingin menangis.
            “ Awas....kam kalau butuh aku ” kata kakakku mengancam
            “ Aku gak akan butuh ” jawab aku.
Begitulah aku dan kakak hampir setiap hari bertengkar terus dan jika saja dia (kakak) bertengkar dengan ayah, aku selalu tidak bisa terima, karena dia sudah keterlaluan. Aku selalu kasihan dan selalu aku lindungi ayah jika bertengkar lagi.
            Itu karena AKU SAYANG DENGAN AYAHKU karena dia selalu banting tulang hanya untuk anaknya. Jika saja ada tetangga yang bergosip tentang aku, aku selalu cuek dan menganggap mereka orang-orang yang sangat bodoh dari aku. Aku tidak akan mengalah dengan kata orang lain yang mencela ayahku.
Ehmmm...............tapi aku kini mencoba cuek dengan segala masalahyang aku jalani.
            Disaat aku masuk kedalam kamar aku selalu lega, dan bebas rasanya......melihat tulisan yang aku ekspresikan didinding kamarku. Sambil mendengarkan musik dan tiduran diatas kasur......aku selalu berkhayal dan bermimpi, dimana saatnya nanti aku bisa membahagiakan dan bahagia dengan keluargaku.
            “ Kapan ya.....aku bisa menjadi seperti dia? ”
Aku berfikir dalam benakku sambil tersenyum. Yang aku maksud dia adalah Fansku. Tapi harapanku tak akan berhenti sampai disini saja. Aku akan terus berusaha sampai aku bisa dan selalu berikan senyuman...............he he he he........!!!!

“ BIODATA PENULIS “


Nama                           : Susi Puji Rahayu
Tempat,tanggal lahir   : Mojokerto, 19 April 1996
Alamat                                    : Dsn Kemendung
                                      Ds, Penanggungan
                                      Kec. Trawas – Kab. Mojokerto
Motto Hidup               : Jangan selalu mengalah.

No comments:

Post a Comment

Tutorial Pengelolaan Google Classroom