Thursday, October 28, 2010

Tinjauan Instrinsik Puisi
''Pahlawan Tak Dikenal''
Karya Toto Sudarto Bachtiar

A. Bait dan Baris
Puisi ''Pahlawan Tak Dikenal'' karya Toto Sudarto Bachtiar terdiri atas 5 bait dan masing-masing bait terjadi dari 4 baris atau larik. Jadi, secara keseluruhan puisi tersebut terdiri atas 20 baris. Ada baris yang pendek ada pula yang panjang. Baris terpendek terjadi dari 4 kata atau 8 suku kata, yaitu baris ke-4 bait ke-3. Adapun baris terpanjang terjadi dari 9 kata atau 19 suku kata, yaitu baris ke-4 bait ke-4.
Dilihat dari banyaknya baris setiap bait puisi tersebut dinamakan kuatren atau catur larik sebab terdiri atas 4 baris setiap baitnya. Apabila dilihat dari segi rima dan jumlah kata atau suku kata setiap lariknya, maka puisi tersebut dinamakan puisi bebas.
Tiap-tiap bait dan baris ditulis sejajar dan diawali dengan huruf besar, tetapi tidak diakhiri dengan tanda baca. Inilah jenis tipografi yang dipilih oleh pengarangnya.

B. Enjambemen atau Perloncatan Baris
Untuk mengetahui ada tidaknya perloncatan baris (enjambemen), maka terlebih dahulu kita memahami isinya. Oleh karena itulah, untuk sekedar membantu memahami dan menunjukkan ada tidaknya enjambemen, berikut ini dikutipkan puisi aslinya yang sudah dilengkapi dengan kata dan tanda baca tertentu sehingga akan tampak semakin jelas.

PAHLAWAN TAK DIKENAL
(dilengkapi kata dan tanda baca untuk apresiasi)

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring (,)
Tetapi bukan tidur, sayang (.)
(Ada) Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
(dan) Senyum bekunya mau berkata, ''kita sedang perang (!)('')

Dia tidak ingat bilama dia datang (dan)
Kedua tangannya memeluk senapan (.)
Dia (pun) tidak tahu untuk siapa dia datang (,)
Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur, sayang (.)

Wajah (-nya yang) sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja (.)
(seakan) Dunia (pun) tambah beku di tengah derap dan suara menderu (,)
(karena) Dia (adalah) masih sangat muda (.)

(pada) Hari itu 10 November, hujan pun turun (.)
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga (,)
Tapi yang nampak, (adalah) wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya (.)

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring (,)
Tetapi bukan tidur, sayang (.)
(ada) Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
(dan) Senyum bekunya mau berkata : ''aku sangat muda (.)('')

Walaupun huruf-huruf kapital pada puisi aslinya tidak diubah (yang seharusnya diubah), tetapi isi puisi dan enjambemennya semakin tampak jelas, setelah dilengkapi dengan tanda baca dan kata-kata tertentu untuk memperjelasnya. Dengan demikian dapatlah disebutkan enjambemen, yaitu :
A. Pada bait I :
Baris ke-1 meloncat ke baris ke-2
Baris ke-3 meloncat ke baris ke-4

B. Pada bait II :
Baris ke-1 meloncat ke baris ke-2
Baris ke-3 meloncat ke baris ke-4

C. Pada bait III :
Baris ke-1 meloncat ke baris ke-2
Baris ke-3 meloncat ke baris ke-4

D. Pada bait IV :
Baris ke-2 meloncat ke baris ke-3 dan ke-4

E. Pada bait V :
Baris ke-1 meloncat ke baris ke-2
Baris ke-3 meloncat ke baris ke-4

(bersambung ke C. Bahasa dan Gaya Bahasa)
(wien's)

Wednesday, October 27, 2010

Keinginan untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku berminpi ingin mengubah dunia. Dunia yang penuh dengan kepalsuan dan keserakahan akan ku ubah menjadi dunia yang dihiasi dengan kebenaran dan kasih sayang. Tidak ada lagi kesombongan dan keangkuhan. Tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, aku berusaha mewujudkan keinginan itu. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Di mana-mana terjadi peperangan. Di sana-sini terjadi perampasan dan kekerasan. Yang kuat menindas yang lemah. Yang kaya menginjak-injak kaum yang miskin.
Aku semakin putus asa, sampai kapan pun aku tidak akan dapat mengubah dunia seperti yang ku inginkan. Maka, cita-cita itu pun agak kupersempit, mungkin kenginanku terlalu tinggi. Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Yah... Aku ingin mengubah negeriku, Indonesia.
Negeri tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Semakin hari negeriku semakin penuh dengan keributan. Bom meledak di mana-mana. Indonesia semakin menangis. Rakyat semakin berduka. Teroris semakin keras tertawa tergelak-gelak. Pejabat-pejabat saling berdebat. Saling cela, saling ejek, saling sindir. Semua merasa benar. Teroris semakin terbahak-bahak.
Aku ingin mengubah negeriku menjadi negeri yang aman tentram. Kerukunan di mana-mana. Namun, tampaknya hasrat itu pun tiada hasilnya. Karena Indonesia meledak, rakyat bagai tersedak dan teroris makin tergelak.
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, orang yang paling dekat denganku. Aku mulai dari suamiku. Suamiku adalah perokok berat. Aku ingin suamiku berhenti merokok demi kesehatannya.
Tetapi celakanya, ternyata usahaku sia-sia. Karena baik suamiku atau pun keluargaku yang lain, mereka pun tidak mau diubah. Mereka lebih suka hidup dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak ingin dikekang. Mereka tidak ingin selalu didikte. Karena mereka punya kehidupan sendiri. Dan mereka ingin menjalani hidupnya sesuai dengan keinginan dan cita-cita mereka sendiri.
Dan kini, sementara aku berbring saat ajal menjelang. Tiba-tiba aku tersadar. ''Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, maka jika aku telah mengubah diriku menjadi manusia yang memiliki rasa empati pada sekeliling, tidak egois, tidak plin plan, mempunyai keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku.'' Kataku dengan penuh penyesalan.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu mengubah negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia.
Namun sis-sia itu semua. Kesempatan itu telah terlewati. Kini hanya ada penyesalan. Karena ajal telah menjemputku. (Wien's)

Puisi Luka

Hujan setahun dihapus panas sehari
Ketika telunjuk menuding
Empat jari lainya
Mengarah pada diri sendiri
Karang mengeras dihajar palu
Namun luluh disaput air
Aku ingin seperti pohon buah
Dilempari batu
Tetapi memberi buah sebagai balasnya
Tapi aku manusia biasa
Punya hati dan rasa
Aku lelah, selalu salah dan mengalah
Biarlah luka ini
Ku bawa lari dalam pasrah
(wien's, Oktober 2010)

Model Pembelajaran Inside Outside Circle

Model pembelajaran Inside Outside Circle merupakan model pembelajaran dimana ''siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur''. Pembelajaran ini lebih leluasa dilaksanakan di luar kelas atau tempat terbuka. Karena mobilitas siswa akan cukup tinggi sehingga diperlukan perhatian ekstra. Namun demikian jika jumlah siswa tidak terlalu banyak bisa juga dilaksanakan di dalam kelas.
Adapun informasi yang saling berbagi merupakan isi materi pembelajaran yang mengarah pada tujuan pembelajaran. Misalnya, pada mata pelajarn Bahasa Indonesia kelas IX semester ganjil tentang unsur-unsur cerpen. Sebagian siswa mempajari tokoh-tokoh cerita, sebagian siswa yang lain mempelajari sifat/watak tokoh, latar cerita, alur cerita, ataupun amanat/pesan cerita. Pada saat nanti mereka berbagi informasi, maka semua siswa akan saling memberi dan menerima informasi pembelajaran.
Tujuan model pembelajaran ini adalah melatih siswa belajar mandiri dan belajar berbicara menyampaikan informasi kepada orang lain. Selain itu juga melatih kedisiplinan dan ketertiban.
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD; 2. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan 3-4 orang; 3. Tiap-tiap kelompok mendapat tugas mencari informasi berdasarkan pembagian tugas dari guru (misal : latar cerita, tokoh cerita, watak tokoh, alur cerita, pesan/amanat, dll); 4. Setiap kelompok belajar mandiri, mencari informasi berdasarkan tugas yang diberikan; 5. Setelah selesai, maka seluruh siswa berkumpul dan membaur dengan kelompok lain; 6. Separuh kelas diminta berdiri dan membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar; 7. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama menghadap ke dalam; 8. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan; 9. Kemudian siswa yang berada di lingkaran kecil diam di tempat sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam; 10. Sekarang giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya sampai seluruh siswa selesai membagi informasi.
Kemampuan membuat desain pembelajaran merupakan fokus kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yang benar-benar profesional. Alasannya, kemampuan mendesain pembelajaran sangat berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas guru di lapangan sebagai pemegang kendali proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.
Tidak ada metode pembelajaran sastra yang sempurna, maka seorang guru diharapkan mampu memilah dan memilih serta menentukan media dan metode pembelajaran yang paling relevan dengan tujuan dan situasi yang dihadapinya di kelas sehingga pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang, dan juga menyenangkan. (Wien's)

Tutorial Pengelolaan Google Classroom