Wednesday, September 28, 2011

Pengalaman Pribadi

  

         Sejak kelas I SD Saya di sekolahkan Orang Tua bertujuan untuk mendapatkan pendidikan, baik dari Guru maupun Orang Tua. Saya mengenal diri sendiri dan masyarakat luar. Sejak  berumur 2 tahun saya memiliki seorang adik perempuan. Panggil saja Rahayu namanya. Saya tidak pernah manja, merasa malu kepada Rahayu jika saya manja kepada Orang Tua.
            Kebiasaan saya yang tidak bisa saya hentikan sampai sekarang yaitu sering bertengkar dengan Rahayu. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Hanya masalah sepele saja sering bertengkar. Tapi saya baru menyadari dan berfikir jika tidak ada yang mau mengalah, maka tidak ada hentinya suatu masalah. Kini saya mencoba mengalah agar tidak ada sebuah pertengkaran lagi untuk hal – hal yang tidak penting.
            Dulu saya tidak mengerti betapa pentingnya pendidikan. Tapi sekarang saya tau betapa sulitnya Orang Tua saya mencari uang untuk membiayai sekolah saya. Sekarang saya tidak akan pernah menyia – nyiakan sekolah saya karna memerlukan biaya dan izasah penting untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi demi mencari dan mendapatkan sebuah pekerjaan yang baik bagi saya. Oleh karena itu saya akan belajar dengan sungguh – sungguh demi merai cita – cita dan impian saya untuk menjadi orang yang sukses bisa membanggakan Orang Tua.
            Saya bahagia memiliki keluarga yang utuh dan bisa berkumpul bersama. Tapi di dalam kebahagiaan pasti ada kesedihan. Kesedihan saya di mulai dengan masuknya Anggun ( keponakan saya ) ke rumah sakit. Sejak bayi sudah sakit – sakitan. Sudah empat kali sekarang opname ke rumah sakit. Yang terakhir di rumah sakit saiful anwar. Sudah dua bulan opname sampai sekarang tak kunjung sembuh jua. Anggun terkena penyakit hepatitis B. Di perkirakan oleh Dokter kurang dua bulan opname baru bisa pulang. Penyakitnya harus benar – benar sembuh.
            Kesedihan saya tidak berhenti sampai di sini. Fitri ( kakak perempuan saya ) menyusul Anggun ke rumah sakit saiful anwar Malang setelah di rawat di Puskesmas Trawas lima hari. Kakak saya mengalami penyempitan otak sebelah kiri.
            Tidak ada yang menunggui di sana. Akhirnya saya yang menuggui mbak Fitri. Ibu dan Nenek sudah menunggui Anggun. Saya mengorbankan sekolah demi kakak. Saya di izinkan oleh Bapak Wali kelas saya.
            “ Begini kejadiannya”. Saat berada di rumah mbak Fitri sering sakit kepala. Pada akhinya sudah tak tertahan rasa sakit itu di bawak ke puskesmas. Saat di puskesmas kok sudah 4 hari tidak ada kemajuan. Baru saat itu di tes darahnya tapi hasilnya negative tidak ada penyakit. Lalu kepala mbak Fitri di bawah ke radiolagi untuk di foto. Pada saat itulah baru tau hasilnya.
            Nah, pada sabtu malam minggu dari puskismas Trawas mbak Fitri di pindah ke saiful anwar di Malang. Berangkat pukul 20:00 sampai di sana pukul 22:00. sesampainya mbak Fitri langsung di bawah ke IGD ( Instalasi Gawat Darurat ). Mbak di tangani oleh lima Dokter. Saya menunggu lama untuk mendapatkan kamar buat mbak. Akhirnya jam 6 pagi sudah mendapat kamar dan segerah di pindahkan.
            Sepuluh hari saya tidak sekolah demi kesembuhan mbak Fitri, saat tiga hari disana sudah mulai sadar yang sebelumnya tidak sadar. Saya berfikir bagaimana tentang sekolah saya setelah sepuluh hari tidak masuk. Pasti banyak pelajaran yang tertinggal. Mbak Fitri sudah mulai baikan. Akhirnya saya meminta Bapak untuk menjemput saya pulang.
            Saya tidak menyangka saat sampai di rumah. Banyaknya Pr yang harus di kerjakan. Sedikit demi sedikit saya bisa mengejar ketertinggalan. Sampai sekarang masih ada catatan catatan yang belum terselesaikan.
            Tak lama setelah itu saya mendapat kabar bahwa mbak Fitri besok sudah boleh pulang. Senang rasanya. Beruntung sekarang boleh pulang tapi harus ingat tiga hari kemudian harus periksa lagi. Tinggal Anggun yang belum sembuh juga dan belum di perbolehkan pulang. Saya selalu berdo’a agar Anggun tetap sembuh.
            Saya berfikir dan merenung sebentar lagi hari raya segera tiba. Tapi saya tidak bisa berkumpul dengan keluarga yang lengkap karna salah satu keluarga ada yang opname. Saya selalu berharap di hari raya bisa berkumpul keluarga yang utuh.
            Kesedihan saya tiada henti karena melihat Anggun yang sudah dua bulan di rumah sakit belum juga sembuh. Do’a dan harapan selalu saya ungkapkan kepada Allah SWT.
            Saking putus asanya saya sempat berfikir yang tidak nyata. Seakan – akan saya dapat berbicara dengan Allah Yang Maha Kuasa “ Ya Allah, jika keponakan saya bisa sembuh, tolong cepat engkau sembuhkan. Tapi jika kehendakmu kebalikan itu cepat kau ambil nyawa Angun dan tempatkan di sampingmu, di samping orang – orang beriman”. Saya yang telah putus asa dengan keadaan yang seperti ini.
            Ucapan saya seakan – akan seperti orang gila, yang tidak berfikir bagaimana mbak Fitri jika kehilangan Anggun. Setelah kehilangan suaminya dua tahun yang lalu bisa bisa stress. Tapi sekarang saya harus hilangkan fikiran seperti itu lagi. Kita sekeluarga sudah sekuat dan sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sekarang berjuang dan berusaha keras sekuat tenaga pasti ada puncak keberhasilannya.
            Sekarang mumpung ramadhan berbuat baik bersikap sopan, berfikir positip menghilangkan fikiran fikiran saya yang negative. Saya harus memperbaiki sifat dan prilaku, memperbanyak berbuat amal, meminta kepada Allah petunjuk yang benar, agar dapat memecahkan masalah masalah dan cepat selesai. Berfikiran secara sehat, bagaimana saya harus menjalankan kewajiban  kewajiban saya, baik perintah Allah, perintah Orang Tua, dan perintah Bapak Ibu Guru saya. Bagi saya kesuksesan dan keberhasilan pasti dapat tercapai jika ada usaha dan di sertai dengan do’a melaksanakannya dengan sungguh sungguh.
            Do’a saya setiap hari tiada henti, saya selalu berdo’a agar keluarga saya tidak ada yang sakit, semua keluarga sehat sehat dan bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi.
            Bagaimana keadaan Anggun sekarang ya, apakah sudah membaik atau belum, sudah dua minggu belum menjengguk Anggun, rasanya kangen sekali terpisah oleh ruang dan waktu, juga jarak yang lumayan jauh. Coba bayangkan dari Trawas ke Malang kota, perjalanan saja menempuh kurang lebih dua jam itupun kalau jalan lancar, tidak ada macet. Yah harapan selalu menuju kesembuhan dan kesehatan, semoga saja Allah segera mengentikan cobaan dan jalan keluar amin.
            Demi meraih cita cita, melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi untuk meraih sebuah kesuksesan. Saya harus belajar dengan sunggu sunggu tetapi mengapa ada satu kebudayaan yang belum dan tidak saya tinggalkan yaitu menyontek pekerjaan teman. Saya melihat hamper semua teman saya tidak ada yang bekerja secara jujur semua anak pasti nyontek termasuk saya, he…he…he…pelajaran pelajaran biasa saya sering menyontek dan bekerja sama tapi pada saat ulangan Insya Allah saya mengerjakannya sendiri akan tetapi setiap orang pasti mempunyai kesulitan tidak selalu mendapat kemudahan dan keberuntungan. Nah pada saat inilah, pada saat saya mendapat kesulitan saya meminta bantuan pada teman saya. Itupun kalau bisa dan kalau saya di beri contekan kalau tidak terpaksa mengerjakan sendiri.
            Terkadang saya tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia karena selain menulis banyak juga harus memperbanyak membaca agar memiliki ilmu dan pengetahuan luas. Akan tetapi kita akan mudah memperoleh ilmu jika memiliki pengetahuan yang luas. Dengan mudahnya mengadapi suatu masalah jika banyak pengetahuan dan pengalaman. Itulah pelajaran mau tidak harus di sukai dan di jalankan. Lebih baik menyukai semua pelajaran, ilmu yang di dapat lebih mudah masuknya ok. Semangkin kita menyukai semua mata pelajaran semangkin mudah kita menyerap ilmu – ilmu yang telah kita pelajari, begitu juga sebaliknya semangkin banyak pelajaran yang kita benci maka mempersulit masuknya ilmu ke otak dan mudah lupa.
            Hari ini hari minggu hari yang di tunggu oleh semua orang hari libur tapi tidak bagi para petani termasuk Bapak saya, hari minggu sih biasanya hari istimewah bagi para remaja di mana hari itu kita bisa ngedate pada pasangan masing masing. Hari libur sekolah tapi belajarnya kog gak pernah libur sih, hehe. Hari minggu ini saya ke sawah brow emh sial bangets saya waktu di jalan ada anjing saya kan takut anjing. Anjing yang semulah diam melihat saya lari yang saking ketakutannya, nah kok anjing itu dari belakang ngejar saya. Joging dech sama anjing. Saking capeknya saya di kejar kejar anjing akhirnya saya manjat pohon jambu. Lah kok waktu manjat sandal saya ketinggalan di bawah, sandal saya di ambil dan di gigit si anjing di bawah lari. Saya sudah bisa bernafas lega anjing itu pergi meski sandal saya di bawah tapi gak papa asalakan bukan saya yang di bawah oleh si anjing nakal itu. Akhirnya saya kesawah gak pakai sendal deh. Ternyata sakit juga gak pakai sendal, waktu saya sapek disawah saya melihat mbah saya lagi nanam padi, pengennya saya membantu tapi saya gak bisa, saya gak pernah nanam padi, saya minta di ajarin oleh mbah saya. Ternyata gak semudah yang kita bayangkan. Kita harus kotor kotoran kena Lumpur, juga nanamnya harus sama dan lurus biar  tumbuhnya bagus. Selam ini saya tidak pernah membantu, saya cuma tinggal makan saja saya tidak pernah tahu betapa susahnya jadi petani kini saya bisa menghargai dan menghormati bagaimana rasanya bekerja ternyata tidak semudah yang kita bayangkan.
            Saya bersyukur setiap hari masih bisa makan, tidak sedikit anak anak di luar sana yang masih kecil sudah bekerja mencari nafkah untuk diri sendiri, mengamen, mengemis demi untuk mendapatkan sesuap nasi, waktu saya di malang saja banyak anak kecil berjualan dan mengamen yang tidak sekolah. Beruntung saja masih bisa sekolah.
            Sunggu sangat kasihan nasib anak anak jalanan yang masih belum cukup usia untuk bekerja. Waktu saya berada di bus mau ke Malang ada anak kecil yang umurnya kurang lebih tiga tahun sudah mengamen tapi ternyata anak itu tidak lah sendirian melainkan di temani Ibunya. Tetapi Ibunya berada di belakang sedangkan anak kecil itu mengamen sendirian, Ibunya menunggu hasil dari mengamen anak kecil itu, sunggu tega sang Ibu sampai sampai menyuruh anaknya menafkahinya dengan cara mengamen. Bagi saya dia Ibu yang sangat kejam.
            Ya Allah sunggu tidak terasa besok sudah hari raya Idhul Fitri 1932 hijriah. Seharusnya ini hari yang bahagia bagi semua umat islam di dunia waktunya berkumpul dengan keluarga untuk takbiran bersama.
            Hari raya idhul fitri adalah di mana keluarga berkumpul untuk saling memaafkan lahir dan batin satu sama lain tapi tidak bagi keluarga saya di rumah, bagaimana bisa bahagia sedangkan salah satu keluarga berada di rumah sakit yang tak kunjung sembuh juga. Saya dengan sabar menunggu dan terus menunggu kesembuhan Anggun.
            Waktu takbiran kemarin saya tidak mengikuti . bagai mana saya bisa mengikutinya sedangkan yang ada difikiran saya hanya memikirkan Anggun , begitu pula saat hari raya tiba saya tidak bisa makan dan minum dengan enak . soalnya Ibu dan adik saya sudah dua hari tidak makan semua kantin dan warung tutup . jadi tidak bisa makan .bahkan air panas saja tidak ada untuk membuat susu karna semua kantin , toko dan warung sudah tutup sehari sebelum menjelang hari raya datang akhirnya hari rabu 31 agustus jam 2 siang saya dan bapak pergi kerumah sakit untuk mengantarkan sekotak nasi dan sebotol air panas kepada Ibu dan adik . seandainya jarak rumah sakit dari rumah tidak jauh pasti setiap hari saya kesana untuk menjenguk si manis Anggun .
            Sesampai disana keadaan tempat dan suasananya sepi hanya ada pasien yang sakit dan penunggu yang beraqda di ruangan masing – masing , dokter jaga saja Cuma dua orang . ketika berada di sana saya disuruh nyuci baju Anggun huh…. Mengesalkan tapi saya bahagia ketika bertemu Azizah teman saya Azizah anak yang baik hati dan ramah . sebenarnya Azizah anak situ bondo , dia nunggu adiknya yang mau oprasi yang terkena patah tulang . si Iza cerita – cerita tentang keadaannya . lalu Iza tanya kepada saya .
            “ Broy gimana kabar kamu ?
            “ Baek – baek aja broy “,kamu ndiry gimana ? “
            “ Seperti yang kamu lihat “ !!!
            “ Btw kamu kapan pulangnya ? “
            “ Kalok adek gw udah selesai oprasinya !! nah. Loe ndry ? “
            “ Gw sieh entar udah pulang .
            “ Ech sebelum kamu pulang jalan – jalan yuk !! “
            “ Kemana ???
            " Alah . ada dech !!!
            Maklum anak situ bondo gak bisa bahasa jawa , karena bahasa sehari – hari memakai bahasa madura . saya langsung diajak jalan sama dia . penasaran mau diajak kemana . eh ,,,ternyata ke alun alun Malang. Tapi gak papa sih meski waktunya sangat singkat fikiran bisa fresh tidak jenuh ketika berada di rumah sakit.
            Waktu berada di alun alun Iza beli kaos dia juga membelikan saya, dia sengaja memilih motif corak dan warna yang sama untuk kita berdua. Sebagai tanda pertemanan. Tak terasa sudah satu jam berada di alun alun. Akhinya kita kembali ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, saya bergegas keruangan Anggun dan tidak lama kemudian saya di ajak pulang.
            Waktu pulang jalanan macet udara panas apalagi di bus desak desakan, saya di bus cuma berdiri bangkunya sudah penuh. Huh…. Sebel banget. Akhirnya sampai juga di pandaan. Bapak langsung mengambil sepeda yang sebelumnya sudah di titipkan di tempat pemarkiran.
            Sesampainya saya di rumah. Saya menuju kamar untuk tidur. Saya capek karna dalam perjalanan berdiri terus. Ech belum sempat memejamkan mata mbak sudah menyuruh saya ke Trawasuntuk membeli obat . ya sudah dari pada di omelin mendingan cepat cepat bergegas deh.
            Saat hari raya, saya tidak meminta maaf pada Ibu, maunya sih minta maaf tapi belum bicara sudah di omelin . padahal kesempatan sekali dalam setahun . sekarang baru menyesal , akhirnya saya berfikir untuk meminta maaf lewat televon  dan beliau juga memaafkan saya.
           
            Lama tidak terasa libur panjang akan segera habis. Itu artinya saya akan masuk sekolah , satu pun PR yang belum aku kerjakan . satu persatu belum juga selesai sampai sekarang termasuk juga bahasa Indonesia.
            Sekarang hari rabu besok waktunya masuk sekolah hari terakhir liburan. Besok adalah hari yang saya tunggu – tunggu . dimana hari saling bersalam salaman dan memaafkan antara guru dan teman – teman . jadi ngak sabar menunggunya .
            Ya sudah, hari semakin malam, besok waktunya masuk . saya tidak pengen terlamba.

BIODATA :

Nama Lengkap          : Agustiya Wahyuningsih.
Tempat tanggal lahir   : 29 Juni 1996.
Kelas                         : IX/B
Alamat                       : Penanggungan, Trawas - Mojokerto
Motto                        : Setiap masalah pasti ada jalan keluar.

Love Story With My Best Friend

Oleh : Aris Eka Wijayantiningrum
''Aku, aku adalah pelajar SMP yang sekarang duduk di kelas 1X,” dan hari – hariku pun dipenuhi beberapa pengalaman yang berbeda – beda, baik susah, senang, aku pun menjalaninya dengan penuh kesabaran.
“Aku mempunyai keluarga yang slalu menyayangiku dan slalu mendukungku untuk menjadikan diriku menjadi orang yang sukses,” tetapi perjalananku menuntut ilmu tak segampang yang kubayangkan.
"Aku harus bekerja keras dan menentang perasaan malasku,” aku juga mempunyai teman – teman yang slalu ada untukku.
Dan ibuku pernah memberikan suatu saran kepadaku yang harus aku pegang selama aku menuntut ilmu.
"Nak. . . jangan sampai ada pertengkaran antar temanmu akibat menuntut ilmu, tuntutlah ilmu dengan perasaan yang jujur,”
“Iya bu,” itulah jawabku kepada ibuku.
Pagi ini sangat cerah, akupun mulai berangkat kesekolah, dengat niat didalam hati aku menuntut ilmu. Dan disekolah pun terjadi pertengkaran antar temanku.
“Aku pun juga tak tahu permasalahanya apa,” tetapi aku dan teman – temanku tak tahu harus berbuat apa. Dan kami belum saatnya menanyakan masalah itu.
“Bel pulang pun sudah berbunyi, saatnya kami pulang kerumah kami masing – masing,” tetapi hari itu tidak seperti hari biasanya, hari itu aku pulang dengan rasa penasaran kepada temanku Sella dan Sari, yang tadi mengalami pertengkaran disekolah.
“Aku dan keponakanku pun sudah sampai didepan rumah,” tetapi hatiku masih bertanya – tanya, tetapi aku juga harus memikirkan pelajaranku yang tadi disekolah tak aku hiraukan sama sekali.
Hari pun mulai malam, saatnya aku belajar, tetapi aku juga masih belum konsen sama pelajaranku.
“Aku kok merasa kasihan ya, sama mereka berdua,” kata batinku yang selalu memikirkan mereka.
“Kenapa kak, ngelamun saja?” tanya adik keponakanku.
“Tidak apa – apa dik, cuma kepikiran teman kakak saja,”
“Emangnya teman kakak kenapa?”
“Teman kakak bertengkar disekolah, kakak tidak tahu permasalahanya seperti apa.”
“Kalau menurut adik kakak harus bagaimana ya?” tanyaku kepada Okta adik keponakanku yang sedari tadi duduk bersamaku.
“Ah aku tak tahu kak, permasalahanya aja juga belum jelas.” Besok saja kakak tanyakan dulu kepada teman kakak itu.
Malam pun mulai larut, aku dan keponakanku pun mulai bergegas istirahat agar besok pagi pun bangun tak kesiangan. “
Aku merasa kasihan sama keponakanku,” tidur kemalaman akibat mendengarkan curhatanku.
“Alarmku sudah berbunyi, tanda waktu sudah pagi.”
“Aku bergegas menyiapkan semuanya sebelum berangkat kesekolah.”
“Aku tak sabar pergi kesekolah untuk menenangkan permasalahan temanku,” tetapi disisi lain aku harus menghiraukan pelajaranku yang harus berjalan seperti biasanya untuk menjadi bekal aku menggapai cita – citaku.
Tak lama kemudian persiapanku untuk berangkat kesekolah pun sudah selesai, kini saatnya tugasku untuk belajar telah tiba.
“Aku berangkat kesekolah sama Okta adik keponakanku.”
Beberapa menit kemudian, sampailah aku disekolah. Dan tibalah juga teman – temanku yang aku tunggu.
“Aku langsung tak sabar menanyakan permasalahan antar temanku (Sella + Sari).”
“Sell, sebenarnya kamu ada masalah apa sich sama Sari itu?” tanyaku kepada Sella yang dalam keadaan marah.
“Kata teman – temanku Sari mengucapkan kata – kata yang kasar untukku, yang seharusnya tak dia ucapkan,” jawab Sella kepadaku.
“Sudahlah Sell, persahabatan kami sedang diuji, kami selesain saja masalah ini bersama – sama, kita kan sahabat, susah, senang, bersama – sama. Ngapain mendengarkan omongan orang" sahutku sambil menenangkan emosi Sella.
Tak kusadari pembicaraanku dengan Sella sangat panjang, dan bel masuk sudah berbunyi, mulailah diri ini merasa menjadi orang yang bodoh dan belajar menjadi pintar.
“Aku hari ini cukup tenang untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya, karena hati ini sudah tak dipenuhi berbagai masalah yang mengakibatkan retaknya persahabatan.”
“Aku pun juga sudah ngomong baik – baik ke Sella,’’ tinggal Sari yang sampai saat ini belum terfikirkan dibenakku.”
“Aku mengikuti pelajaran jam pertama ini cukup senang, karena berjalan seperti yang aku inginkan.”
Sebenarnya pelajaranku kemarin cukup terganggu akibat pertengkaran Sella dan Sari, tetapi tidak apa – apa la, meskipun aku sedikit tidak mengerti, tetapi nanti bisa aku tanyakan lain hari lagi.
Tidak terasa bel istirahat pun sudah berbunyi, aku dan Elia teman sebangkuku dan juga sahabat terbaikku bergegas menuju ke arah Sari untuk menanyakan permasalahan yang selanjutnya, agar masalah yang sekecil ini tak jadi masalah yang di besar – besarkan.
“Emangnya masalahnya gimana sich kamu sama Sella itu?” tanyaku kepada Sari yang sedari tadi ngelamun di mejanya,”
“Aku tidak tahu, kemarin Sella menghampiriku dan langsung marah – marah kepadaku,” jawab Sella kepadaku.
“Mungkin saja kalian cuma salah paham,” sahut Elia yang sedang menasehati Sari.
“Kalian saling minta maaf saja, siapa tahu masalahnya bisa cepat selesai.”
“Iya, aku coba minta maaf saja sama Sella, siapa tahu Sella bisa mengerti keadaan ini, dan bisa memaafkan diri yang tak berdaya ini,” Jawab Sari kepada kami.
Ting. . . ting. . . ting, bel masuk mulai terdengar oleh kuping ini, belajar, belajar dan belajar lagi.
Ternyata kami menunggu sangat lama untuk memulai pelajaran ini, guru satu pun tak ada yang menuju ke kelas kami, dan bisa disimpulkan bahwa kami lagi jam kosong, dan mungkin inilah yang dinanti – nanti oleh kami, sebagai pelajar yang tidak tahu diri. Orang tua menyekolahkan kami dengan banting tulang setiap hari tetapi kami mengabaikanya seperti ini.
Mulailah kelas kami bagaikan pasar yang pindah tempat, kelas kami memang tidak bisa di kendalikan oleh satu orang, apa lagi itu sahabat sendiri.
“Nah, lihatlah semua pada gosip sendiri – sendiri,” saat aku membuka pembicaraan dengan Elia teman sebangkuku.
“Iya, aku tidak bisa membayangkan jika ada guru yang masuk ke kelas kami dan melihat semua ini, seberapa kecewanya?” jawab Elia kepadaku.
Ya Allah, Elia temanku belum selesai berbicara, yang aku takutkan pun terjadi juga, dan seorang guru pun tiba – tiba datang ke kelas kami.
Dan mulailah teman – temanku lari menuju ke tempatnya masing – masing seperti biasa, guru pun pastinya curiga, kalau tidak merasa melakukan salah, mengapa harus lari – lari yang tidak ada gunanya, toh akhirnya di marahi juga. Memang kami yang salah, tetapi guru menasehati kami kan itu juga demi kebaikan kami juga.
“Bel pulang sudah berbunyi, semoga ilmu yang aku dapat hari ini menjadi bekal untukku nanti,”
“Aku sebelum pulang pastinya terlebih dahulu menunggu keponakanku,” dan langkahan kaki ini berharap sampai di rumah dengan selamat dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat.
“Aku di jalan sambil menceritakan ke ponakanku tentang permasalahan Sella dan Sari yang tadi sudah aku tanyakan di sekolah,”
“Tak terasa langkah kaki ini telah menuntun kami tiba di rumah,”
“Hari ini sangat panas ya kak?” tanya Okta kepadaku.
“Iya, tetapi moga – moga saja bukan hatiku yang panas, hehehehe.” Jawabku kepadanya.
“Ah kak bisa saja, emangnya hati kakak lagi di panggang ya?” kok panas.
“Wah enak donk, orang yang biasanya makan ayam panggang sekarang makan hati panggang, hehehehehe,” betul. . .betul. . .betul. . .!!!!! itulah saat Okta sedikit menghiburku yang terlalu pusing memikirkan masalah Sella dan Sari.
“Kak ngapain sich mikirin masalah Sella dan Sari, biyarin aja mereka selesaikan masalahnya sendiri, kan mereka sudah besar, pasti ngerti la apa yang terbaik buat dirinya sendiri?” tanya Okta kepadaku.
Sella dan Sari kan temanku, apa salahnya kakak membantu mereka, kan demi kebaikan juga. Jawabku kepada Okta yang dari tadi nanya mulu.
Tak lama kemudian Sari menelfonku, dan mengatakan semuanya kepadaku, bahwa Sella tak mau memaafkannya.
“Aku memberikan saran kepadanya, lebih baik minta maaf secara langsung saja, mungkin hatinya sedikit tersentuh melihat kamu minta maaf secara tulus kepadanya.”
“Aku sadar bahwa memang Sella mempunyai sifat yang sangat egois,” seandainya Sella yang salah, Sella pun tak mau minta maaf terlebih dahulu, istilahnya sich gengsi.
Beberapa hari kemudian Sari meminta maaf lagi kepada Sella, dan di ulangi untuk kedua kalinya Sella tak mau memaafkan Sari.
“Sella pun tidak mau putus asa,”
Tetapi jujur, aku dan teman – temanku saat itu merasa Sella yang kami kenal tidak seperti itu, kami pun perlahan – lahan mulai kecewa kepada Sella, tetapi tidak dapat kami pungkiri, kami tidak bisa memilih satu di antara mereka berdua, karena meskipun mereka ada masalah, tetapi di dalam hati yang paling dalam kami selalu bersama.
Hari demi haripun sudah berlalu, seminggu sudah kami tak pernah mengurus masalah itu, mungkin di benak hati mereke, mereka butuh waktu.
“Sakit hati, sakit hati mungkin kata yang tak asing lagi buat kami.”
“Mungkin lagi kami pernah merasakan rasanya sakit hati,” entah sama sahabat sendiri, orang yang kami cintai, dan yang mencintai kami, seperti Sella dan Sari.
“Aku, aku sendiri pun pernah mengalami rasanya sakit hati,” yang aku alami dengan sahabat sendiri dan orang yang aku cintai, bisa juga disebut Selli dan Ricki.
“Selli, Selli adalah saudara kembarnya Sella,” yang kedua – duanya pun menjadi sahabat aku juga.
“Aku pun tahu, aku tidak secantik dan sesempurna mereka, tapi apa salahnya aku hanya manusia biasa yang ingin di cintai seperti mereka.”
“Karena tidak ada yang tahu kapan aku menghadap yang kuasa,” dan sebelum aku mengalami semua itu, aku ingin merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
“Selli, Selli seseorang yang saat ini di cintai Ricki, orang yang sangat aku kagumi, dan pernah menjadi bagian dari hidupku ini,” istilahnya sich mantan, hehehehe.
“Aku pun menyadari semua ini, bahwa cinta tak harus memiliki,” tetapi aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran.
“Aku saat itu sedikit benci kepada Selli, yang selalu di cintai oleh pujaan hatiku,” dan lebih sakitnya aku, Selli slalu berurusan sama love storyku.
Tetapi aku mencoba mengerti keadaan ini, bahwa semua yang kami inginkan, tak selamanya kami dapatkan.
Mungkin Selli bisa membahagiakan Ricki, apa salahnya melihat orang yang kami cintai bahagia dengan pilihanya sendiri, meskipun itu bukan kami.
“Aku, aku sadar masih SMP yang tak sepantasnya memikirkan semua ini,”
“Aku lebih memilih sahabatku yang mungkin tidak ada putusnya, daripada orang yang aku cintai sebagai kekasih mungkin juga tak selamanya.”
KALA 2 – 3 bulan sudah berlalu, dan di saat inilah bulan puasa mulai terasa. Dan pastinya dengan membersikan diri menjadi orang yang lebih bermakna.
“Maaf – maafan kami lakukan agar suatu saat kami bisa menuju hari kemenangan,”
“Aku begitu tak menyadari bahwa sahabatku sendiri kini belum juga baikan, dan tidak pernah menyadari sebuah kesalahan.”
“Aku sangat merindukan saat kami sedih, senang, kami bersama – sama.”
Malam pun telah tiba, saatnya mata ini tertutup, dan besok berharap bisa terbuka kembali dan menjadikan diri ini lebih berarti, dari hari - hari yang telah pergi.
Mulailah mata ini terbuka, dan memulai hari yang baru. Pagi ini sangat cerah, dan tugasku belajar dan belajar telah tiba untuk pergi kesekolah.
Tak terasa sekolah tidak seperti biasanya, hari ini berada di sekoloah hanya sebentar, dan sekarang pun waktunya pulang.
“Besoknya pun aku di sekolah sangat terkejut,” aku melihat Sella dan Sari bercakap – cakap seperti biasa yang seperti tidak pernah ada masalah.
“ Hatiku mulai bertanya – tanya, tetapi juga merasa bahagia akibat sahabat yang telah lama berpisah kini telah kembali sudah.”
Memang mereka tidak seakrab dulu lagi, tetapi aku yakin mereka akan terbiasa saat – saat seperti ini, dan akan kembali menjalin persahabatan seperti dulu lagi.
“Aku pun langsung menanyakan kepada sahabat aku yang lain yaitu Via dan Novi,”
“Memangnya kapan Sella dan Sari baikan?” tanyaku kepada mereka.
“Kemarin pas waktu pulang sekolah, Sari meminta maaf lagi kepada Sella,” dan lebih baiknya lagi Sella mau memaafkan Sari. Jawab mereka kepadaku.
“Eembb, , , nyesel dech gak bisa menyaksikan momen saat mereka baikan,” tapi tidak apa – apa la, yang penting mereka udah kayak dulu lagi.
Kini, sahabatku sudah berkumpul kembali, Sella, Selli, Sari, Novi, Via, Elia, dan aku, kami menjadi sahabat yang tak pernah terlupakan, sahabat selamanya tidak akan pernah terpisah walau badai menerpa, tidak saling memfitnah, menghilangkan rasa egois dan akan berjalan bersama.
SAHABAT SELAMANYA
BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Aris Eka Wijayantiningrum
Tempat Tanggal Lahir : Mojokerto, 24 Mei 1997
Kelas : IX/B SMPN 2 Trawas
Alamat : Dsn. Sendang, Ds. Penanggungan, Kec. Trawas
Motto : Janganlah menyerah sebelum mencoba

Saturday, August 06, 2011

Susahnya Mengajar Bahasa Indonesia

Kelas yang tadinya ribut tanpa kehadiran seorang guru, kini menjadi sunyi. Guru bahasa Indonesia yang paling ditakuti dan disegani oleh semua siswa telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.
“Selamat pagi, Bu Guru!” Sapa seluruh siswa hamper serempak.
“Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu siang, sore, dan malam hari kalian mendoakan saya tidak selamat ya?” Sahut si ibu guru dengan suara melengking.
“Selamat pagi, siang, dan sore, Bu Guru!” Seru seluruh siswa.
“Kenapa panjang sekali? Tidak pernah ada orang yang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah itu lebih bagus didengar dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliptui semua masa dan keadaan.” Jawa si ibu guru.
“Selamat sejahtera, Bu Guru!” Seru para siswa.
“sama-sama, silahkan duduk! Coba dengar baik-baik. Hari ini ibu guru menguji kalian tentang perlawanan kata atau antonym kata. Kalau bu guru sebutkan perkataannya, kalian harus sepat menjawabnya dengan lawan katanya, kalian mengerti?” Tanya Bu Guru.
“Mengerti Bu Guru!”
“Pandai?” Ibu guru memulai pertanyaan.
“Bodoh!” Jawab seluruh siswa.
“Tinggi?” Tanya ibu guru.
“Rendah!” Jawab mereka.
“Jauh?” Lanjut ibu Guru.
“Dekat!” Teriak para siswa.
“Berjaya?” Si ibu guru masih memberikan pertanyaan.
“Menang!” Jawab muridnya.
“Salah itu!” Teriak si Ibu Guru sambil mengerakkan tangan ke atas.
“Benar itu!” Jawab para siswa.
“Bodoh!” Si ibu guru tampak geram.
“Pandai!” Jawab siswa.
“Bukan!” Kata ibu guru sambil mengerak-gerakkan tangannya.
“Ya!” Jawa siswa lebih semangat.
“Oh, Tuhan….” Si ibu guru mulai pusing.
“Ya, Hamba!” Jawa para siswa, mereka tidak tahu kalau si ibu guru kesal mendengar jawaban mereka.
“Dengar ini…!” Teriak Bu Guru kemudian.
“Bicara itu…!” Jawab siswa dengan nada panjang pula.
“Diam!!!!!” Teriak bu guru.
“Ribut!!!!!” Jawab para siswa makin keras.
“Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!” Teriak bu guru sambil mengebrak meja.
“Ini adalah jawaban, pandai!!!” Teriak para siswa.
“Mati aku!” Keluh sis ibu guru.
“Hidup aku!” Jawab para siswa.
“Saya rotan baru tau rasa kalian!” Teriak ibu guru.
“Kita akar lama tak tau rasa, kami!” Jawab siswa.
“Malas aku mengajar kalian!” Kata si ibu guru dengan nada mengeluh.
“Rajin kami belajar, Bu Guru!” Jawab para siswa.
“Kalian semua gila!” Teriak bu guru makin kesal.
“Kami sebagian waras, Bu Guru!” Jawab siswa antusias.
“Cukup! Cukup!” Teriak si ibu guru.
“Kurang!Kurang!” Jawab siswa tak kalah keras.
“Sudah!Sudah!” Teriak si ibu guru dengan nada makin kesal.
“Belum!Belum!” Jawa para siswa.
“Mengapa kalian bodoh sekali?” Tanya si ibu guru sambil duduk di kursinya.
“Sebab kami pandai sekali!” Jawab siswa dengan tegas.
“Oh! Kalian melawan ya??!!” Teriak si ibu guru dengan nada marah.
Oh! Kami mengalah tidak!!!” Jawab seluruh siswa dengan keras.
“Kurang ajar!!!!” Teriak si guru sambil bangkit kembali dari kursinya.
“Cukup ajar!” Jawab siswa bersamaan.
“Habis aku!” Keluh si ibu guru.
“Kekal aku!” Jawab seluruh siswa dengan nada senang.
”Oke, Pelajaran sudah habis!” Ibu guru mulai putus asa.
“No, Pelajaran belum mulai!” Jawab seluruh siswa.
“Sudah, bodoh!” Bentak ibu guru.
“Belum, pandai!” Jawab para siswa.
“Berdiri!” Kata bu guru.
“Duduk!” Jawab para siswa.
“Bego kalian, ini!” Si ibu guru makin kesal saja.
“Cerdik kami, itu!” Teriak seluruh siswa.
“Rusak!” Teriak ibu guru sambil memukul meja.
“Baik!” Jawab para siswa.
“Kalian dihukum siang hari!” Si ibu guru makin stress.
“Kami dibebaskan malam hari!” Jawab seluruh siswa makin senang.
Si ibu guru mukanya merah padam dan tanpa bicara lagi, ia mengambil buku-bukunya dan keluar ruangan. Sebentar kemudian, lonceng pun bordering.
Seluruh siswa merasa lega karena guru yang paling ditakuti dan disegani telah keluar dari kelas mereka. Walau bagaimanapun mereka merasa bangga karena telah dapat menjawab semua pertanyaan tadi. Tetapi masih ada hari esok. Si ibu guru pasti akan dating lagi.Wien’s




Wednesday, July 27, 2011

Bunga Rampai Pantun

SRI WINARNI, S.Pd.



BUNGA RAMPAI
PANTUN



Penerbit
TB Pustaka Ilmu Trawas


BUNGA RAMPAI PANTUN
Oleh: Sri Winarni, S.Pd.
Copyright © 20 by Sri Winarni, S.Pd.

Penerbit
TB Pustaka Ilmu, Trawas
Website : -
wienskayun@yahoo.com

Desain Sampul:
Wiens Kayun




Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com





Motto :
Bahagia itu semu
Hanya kita yang tahu
Itupun secara sadar dan waras
Jadi kita jalani saja
Dengan satu pedoman
Yakni Agama
Itulah jalan hidup
Ada bahagia, sedih dan semuanya
Langkah, rejeki, pertemuan, dan maut
Allah SWT yang mengatur







Kata Pengantar


Pantun merupakan khasanah bahasa Indonesia. Makna yang terkandung dalam pantun mudah dicerna, diingat-ingat dan menjadikan “pedoman” bagi kita.
Dengan pendekatan komunikatif, keberadaan pantun semakin melekat dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat umum juga menyukai dan menggunakan pantun.
Penyusun buku ”Bunga Rampai Pantun” ini bertujuan untuk ikut melestarikan pantun yang sudah berkembang di masyarakat Indonesia sebagai wujud apresiasi sastra Indonesia. Selain itu buku ini sekaligus dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia.
Tiada gading yang tak retak. Atas segala kekurangan buku ini, penyusun mohon koreksi, saran, dan kritik dari segenap pengguna. Mudah-mudahan buku ini benar-benar member kontribusi positif dalam dunia sastra dan pendidikan.



Mojokerto, April 2011
Penyusun



DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul
Halaman Motto
Identitas Buku
Kata Pengantar
Daftar isi

Pantun
A.Pengertian Pantun
B.Syarat-Syarat Pantun
C.Peran Pantun
D.Jenis Pantun Berdasarkan Isinya
E.Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya
F.Cara Menyusun Pantun
G.Cara Menyelesaikan Pantun

Kamus Pantun
Contoh Pantun
Daftar Pustaka






PANTUN



A.Pengertian Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.

Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan.

B.Syarat-Syarat pantun :
1.Terdiri atas empat larik/baris
2.Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata, tapi yang lazim
3.Baris pertama dan kedua merupakan sampiran
4.Baris ketiga dan keempat merupakan isi
5.Bersajak akhir dengan pola a-b-a-b

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu : sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

C.Peran Pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang untuk berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

D.Jenis Pantun Berdasarkan Isinya
1.Pantun Anak-anak
a.Pantun bersuka cita
Pantun bersuka cita adalah pantun yang isinya mengungkapkan perasaan gembira/bahagia

Contoh :
Burung merpati burung dara (baris 1)
Terbang menuju angkasa luas (baris 2)
Hati siapa takkan gembira (baris 3)
Karena aku telah naik kelas (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

b.Pantun berduka cita
Pantun berduka cita adalah pantun yang berisi ungkapan kesedihan hati atau berduka

Contoh :
Memetik manggis di kota Kedu (baris 1)
Membeli tebu uangnya hilang (baris 2)
Menangis adik tersedu-sedu (baris 3)
Mencari ibu belum juga pulang (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

2.Pantun Muda
a.Pantun nasib (pantun dagang)
Pantun nasib (pantun dagang) adalah pantun yang merupakan penggambaran keadaan seseorang.

Contoh :
Pergi sekolah mampir Cimahi (baris 1)
Depan bukit lihat ilalang (baris 2)
Mungkin sudah takdir Illahi (baris 3)
Badan sakit tinggal tulang (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

b.Pantun perkenalan
Pantun perkenalan adalah pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.

Contoh :
Dari mana hendak kemana (baris 1)
Manggis dipetik dengan pisau (baris 2)
Kalau boleh kami bertanya (baris 3)
Gadis cantik siapa namamu (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

c.Pantun berkasih-kasihan
Pantun berkasih-kasihan adalah pantun yang berisi ungkapan yang ditujukan pada orang yang dicintainya.

Contoh :
Jalan lurus menuju Tuban (baris 1)
Terus pergi mengangkat peti (baris 2)
Badan kurus bukan tak makan (baris 3)
Kurus memikir si jantung hati (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

d.Pantun perpisahan
Pantun perpisahan adalah pantun yang berisi ungkapan perpisahan.

Contoh :
Jaga tugu di tengah jalan (baris 1)
Menjala ikan mendapat kerang (baris 2)
Tega nian aku kau tinggalkan (baris 3)
Hidup di dunia hanya seorang (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

e.Pantun jenaka
Pantun jenaka adalah pantun yang berisi tentang hal-hal yang lucu dan mustahil terjadi.

Contoh :
Kita bersama pergi ke Bali (baris 1)
Jalan ke kota membeli mangga (baris 2)
Hati siapa takkan geli (baris 3)
Melihat babi berpita tiga (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

f.Pantun teka-teki
Pantun teka-teki adalah pantun yang membutuhkan jawaban.

Contoh :
Menuruni jurang yang landai (baris 1)
Berjalan di atas rumput teki (baris 2)
Kalau anda memanglah pandai (baris 3)
Hewan apa tanduk di kaki (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

3.Pantun Tua
a.Pantun adat
Pantun adat adalah pantun yang berisi peringatan tentang kebiasaan di daerah tertentu.

Contoh :
Tolong menolong umpama jari (baris 1)
Setiap hari bantu-membantu (baris 2)
Bekerja selalu berlima diri (baris 3)
Itulah misal Tuhan memberimu (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

b.Pantun agama
Pantun agama adalah pantun yang berisi ungkapan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.

Contoh :
Makan coklat di lampu redup (baris 1)
Kebun bakau dahannya mati (baris 2)
Sholatlah engkau selama hidup (baris 3)
Sebelum kau sendiri disholati (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

c.Pantun nasihat
Pantun adalah pantun yang berisi ungkapan untuk mengenal seseorang dan ucapannya berupa pantun.

Contoh :
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Dibeli ayah dari pekan (baris 2)
Rajin-rajinlah kau belajar (baris 3)
Untuk bekal masa depan (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

E.Jenis Pantun Berdasarkan Bentuknya
1.Pantun biasa
Ciri-cirinya :
a.Terdiri dari 4 baris
b.Tiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata
c.Baris pertama dan kedua disebut sampiran, baris ketiga dan keempat disebut isi
d.Berpola/bersajak a b a b

Contoh :
Bunga melati warnanya putih (baris 1)
Di hutan disukai monyet (baris 2)
Hidup ini janganlah bersedih (baris 3)
Mainkan musik kita berjoget (baris 4)

Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

2.Karmina/pantun kilat
Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (aa). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran atau pun ungkapan secara langsung.

Contoh :
Di kolong meja ada hewan (baris 1)
Orang sombong sedikit kawan (baris 2)


Keterangan :
(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)

3.Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama / pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris (mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.

Ciri-ciri Talibun :
a.Ia merupakan sejenis puisi bebas
b.Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian
c.Isinya berdasarkan sesuatu perkara diceritakan secara terperinci
d.Tiada pembayang. Setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita
e.Gaya bahasa yang luas dan lumrah (member penekanan kepada bahasa yang berirama seperti pengulangan dll)
f.Berfungsi untuk menjelaskan sesuatu perkara
g.Merupakan bahan penting dalam pengkaryaan cerita penglipur lara.

Contoh :

Tengah malam sudah terlampau
Dini hari belum lagi Nampak
Budak-budak dua kali jaga
Orang muda pulang bertandang
Orang tua berkalih tidur

Embun jantan rintik-rintik
Bnerbunyi kuang jauh ke tengah
Sering lanting riang di rimba
Melenguh lembu di padang
Sambut menguak kerbau di kandang

Berkokok mendung Merak mengigal
Fajar sidik menyinsing naik
Kicak-kicak bunyi Murai
Taktibau melambung tinggi
Berkuku balam dihujung bendul

Terdengar puyuh panjang bunyi
Puntung sejengkal tinggal sejari
Itulah alamat hari nak siang

(Hikayat Malim Demam)


4.Gurindam
Gurindam adalah satu bentuk puisi/pantun Melayu lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari 2 baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Contoh :
Gurindam yang terkenal yaitu Gurindam 12 karya Raja Ali Haji

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan Yang Bahari

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat

F.Cara menyusun Pantun

Langkah-langkah menyusun pantun yaitu :
Pertama : menentukan jenis pantun yang akan kita
Kedua : kita harus mempunyai banyak perbendaharaan kata, sehingga apabila kita akan membuat huruf agar sesuai (berima) mudah mencarinya.

Contoh :
Kita akan membuat pantu nasihat
Isi nasihat kita tulis dahulu :

Asal kita rajin serta tekun (baris 3)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)

Kini kita buat kalimat untuk baris pertama dengan huruf akhir harus kun, untuk kalimat baris keempat suku akhir harus si.

Kita cari kata yang suku kata akhir berbunyi kun, kemudian kita tentukan yang pantas kita gunakan : dukun, sukun, kalkun, atau boleh juga menggunakan kata yang suku kata akhirnya bervokal un, misalnya : dusun, susun, atau midun.

Sekarang kita coba membuat kalimatnya sebagai baris pertama, yang akan kita pasangkan dengan kalimat baris ketiga.

Pergi ke pasar membeli sukun (baris 1)
Asal kita rajin serta tekun (baris 3)

Kalau sudah Nampak serasi, kita buat baris dengan suku kata akhir si atau kata yang bervokal akhir i : busi, saksi, basi, susi, nasi, taksi, dll. Kata ini akan kita pasangkan dengan baris keempat dengan vocal (suku kata) akhir si.

Tidak lupa membawa nasi (baris 2)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)
Setelah kita mendapatkan empat kalimat, cobalah disusun sambil kita rasakan keserasiannya.

Pergi ke pasar membeli sukun (baris 1)
Tidak lupa membawa nasi (baris 2)
Asal kita rajin dan tekun (baris 3)
Tentulah kita kan berprestasi (baris 4)

Keterangan :

(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

Kita coba menyusun bait lagi pantun teka-teki. Kita tuliskan dulu isi pantun yang kita kehendaki.

Kalau kau memang anak pintar (baris 3)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)

Kita buat kalimat baris pertama dengan vocal akhir ar atau tar. Kata-kata yang akan kita pilih : lontar, gentar, sasar, kekar, mekar, lahar, kabar, dll
Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Kalau kamu anak yang pintar (baris 3)

Untuk baris kedua, kita cari kata yang bervokal atau mempunyai suku kata akhir lai. Misalnya : kedai, santai, petai, gulai, dan lain-lain.


Menangkap burung dimasak gulai (baris 2)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)

Setelah ada 4 kalimat atau 4 baris, kita susun sambil kiya hayati :

Buah kelapa buah lontar (baris 1)
Menangkap burung dimasak gulai (baris 2)
Kalau kamu anak pintar (baris 3)
Hewan apa hidung berbelalai (baris 4)

Keterangan :

(baris 1 – rima a)
(baris 2 – rima b)
(baris 3 – rima a)
(baris 4 – rima b)

Jadilah pantun teka-teki dengan tebakan isinya adalah gajah.

Jika kita teliti dan memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak, maka akan sangat mudah bagi kita untuk menyusun sebuah pantun.


G.Cara Menyelesaikan Pantun
Kita sering menjumpai ada beberapa soal yang mengharuskan kita untuk menyelesaikan / menyempurnakan sebuah pantun. Berikut adalah trik untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Sebagai contoh :
………………………… (baris 1)
………………………… (baris 2)
Sekali lancung keujian (baris 3)
Seumur hidup orang tak kan percaya
(baris 4)


Langkah-langkahnya sebagai berikut :

Pertama kita harus berusaha membuat kalimat yang suku kata akhir harus an, atau bervokal akhir an, misalnya : pertanian, ujian, durian, kajian, bagian, tiduran, Koran, kawan, sopan, dan lain-lain. Kalimat ini berkedudukan sebagai baris 1

Misalnya :

a.Membeli burung dan durian
b.Pergi mendayung ke tepian
c.Dari Bandung bawa koran
d.Langit mendung akan hujan

Selanjutnya menentukan baris kedua, harus bersuku kata akhir atau bervokal ya, supaya sama dengan percaya, misalnya : papaya, Surabaya, kaya, raya, majalaya, jaya, dan lain-lain.

Misalnya :

a.Mencari kerang ke Surabaya
b.Sayur kerang dengan papaya
c.Pergi ke timur ke sarang buaya
d.Bersepada motor di jalan raya

Sekarang kita tentukan :

Dari Bandung bawa koran
Pergi ke timur sarang buaya
Sekali lancung keujian
Seumur hidup orang tak percaya

Keterangan :

Baris 1 – rima a
Baris 2 – rima b
Baris 3 – rima a
Baris 4 – rima b

Contoh lain :

Bapa ke kebun parang dibawa (baris 1)
Kawat dibungkus kain dan pita (baris 2)
……………………….. (baris 3)
……………………….. (baris 4)

Perlu diingat! Baris 3 dan 4 yang harus kita tulis adalah isi pantun, bukan sampiran, jadi harus kalimat yang bermakna.

Kita cari baris pertama dengan vocal akhir wa, misalnya : kurawa, ambarawa, tawa, tertawa, dan lain-lain.

Baris kedua kalimat dengan vocal akhir atau suku kata akhir, ta, misalnya : Jakarta, kacamata, mata, buta, kita, dan lain-lain.

Contoh pilihan :

Semua orang tentu kan tertawa
Melihat tikus berkaca mata

Jadi susunan lengkapnya :

Bapa ke kebun parang dibawa (baris 1)
Kawat dibungkus kain dan pita (baris 2)
Semua orang tentu kan tertawa (baris 3)
Melihat tikus berkaca mata (baris 4)


KAMUS PANTUN


Kata yang berakhir dengan vocal a :

Aba
Ada
Adikuasa
Adimarga
Adinda
Adipura
Adiraja
Agenda
Agraria
Aksara
Aktiva
Ala
Baca
Bahasa
Baja
Balada
Bangka
Bangsa
Beda
Bendahara
Berhala
Beta
Betina
Biasa
Bila
Bina
Bola
Budaya
Busa
Busana
Buta
Cakrawala
Canda
Cara
Cela
Celaka
Celana
Cemara
Cempaka
Cerca
Cerna
Cendana
Cipta
Coba
Cuaca
Dada
Dahlia
Damba
Dana
Darma
Dasa
Dasawarsa
Data
Delima
Delta
Denda
Dera
Derma
Dermaga
Desa
Dewa
Dia
Dinda
Diploma
Diraja
Dogma
Domba
Dosa
Duda
Duga
Duka
Dunia
Dupa
Dursila
Durhaka
Dwiwarna
Etika
Fakta
Fana
Fatwa
Fauna
Fenomena
Firma
Flora
Fobia
Fusta
Gada
Gaga
Gala-gala
Ganda
Gandarwa
Garuda
Gatra
Gema
Gembira
Genta
Gerhana
Gorilla
Gula
Gulana
Guna
Hamba
Hampa
Hanya
Hara
Harpa
Harta
Hasta
Hatta
Hina
Hingga
Huma
Ia
Ibunda
Idola
Iga
Ikebana
Indra
Influenza
Informatika
Insektisida
Intelegensia
Irama
Istana
Jaga
Jaka
Janda
Jangka
Jasa
Jera
Jua
Jumpa
Kaca
Kacamata
Kafetaria
Kanda
Kamboja
Kamera
Kanta
Karisma
Karma
Karsa
Kartika
Karya
Kasa
Kecewa
Kejora
Kelola
Keluarga
Kentara
Kerangka
Ketua
Khatulistiwa
Koma
Kontra
Kopra
Kota
Kotapraja
Kuasa
Kurma
Kusta
Laba
Lada
Laga
Laksa
Laksana
Laktosa
Lama
Lara
Lava
Lega
Legenda
Lembaga
Lensa
Lepra
Liga
Lima
Limpa
Loba
Luka
Lupa
Lusa
Magenta
Maha
Mahadewa
Mahardika
Maheswara
Maizena
Malaria
Mangsa
Mantera
Margasatwa
Mayapada
Mekanika
Murka
Nama
Nayaka
Negara
Neraca
Nestapa
Nira
Nyawa
Oksida
Olahraga
Omega
Pagoda
Paksa
Pala
Panca
Pancaindra
Pancasila
Panitia
Pariwara
Pariwisata
Peka
Pelana
Penjara
Perkara
Piala
Pidana
Raba
Raga
Raja
Rama-rama
Sahaja
Saja
Saka
Sama
Sandera
Sangkala
Sauna
Savana
Tamasya
Utara
Vagina
Vulva
Wacana
Zona

Kata yang berakhir dengan vocal i :

Abadi
Abdi
Adi
Admisi
Aji
Alami
Arloji
Arteri
Bahari
Baiduri
Baki
Banci
Bayi
Belati
Bendi
Besi
Bumi
Caci
Dahi
Dai
Dasi
Deli
Demokrasi
Dengki
Ebi
Gaji
Gali
Geli
Hari
Huni
Ilustrasi
Ilusi
Imaji
Inovasi
Jeli
Janji
Jari
Judi
Kopi
Kursi
Laci
Lari
Negeri
Ragi

Kata yang berakhir dengan vocal u :

Aku
Babu
Bangku
Bayu
Biru
Buku
Bulu
Cemburu
Cepu
Cumbu
Dadu
Dungu
Jemu
Kelabu
Keliru
Labu
Laju
Laku
Lucu
Madu
Melulu
Paku
Palu
Perlu
Ramu

Kata yang berakhir dengan vocal e :

Babe
Cabe
Jahe
Kate
Matre
Monte
Rante
Sate
Tante
Tape
Tempe

Kata yang berakhir dengan vocal o :

Bakso
Baliho
Bego
Beo
Melo

Kata yang berakhir dengan vocal ao :

Bakpao

Kata yang berakhir dengan vocal au :

Cincau
Kacau
Kerbau
Pulau

Kata yang berakhir dengan vocal ai :

Andai
Badai
Balai
Belalai
Gulai
Jablai
Lantai
Pandai
Pantai
Petai
Santai
Tangkai
Teratai

Kata yang berakhir dengan vocal oi :

Amboi
Koboi
Sepoi

Kata yang berakhir dengan suku kata ba :

Iba
Domba
Hamba
Laba
Loba
Tiba
Raba
Rimba

Kata yang berakhir dengan suku kata ca :

Baca
Cerca
Cuaca
Kaca
Merica
Neraca
Panca
Rica-rica

Kata yang berakhir dengan suku kata da :

Ada
Adinda
Agenda
Balada
Beda
Canda
Dada
Denda
Dinda
Duda
Gada
Ganda
Garuda
Ibunda
Janda
Kanda
Lada
Pagoda


Kata yang berakhir dengan suku kata ga :

Adimarga
Bangga
Dermaga
Duga
Gaga
Hingga
Iga
Jaga
Jingga
Juga
Keluarga
Laga
Lega
Lembaga
Mangga
Olahraga
Omega
Raga
Surga
Telaga
Tiga

Kata yang berakhir dengan suku kata ha :

Maha

Kata yang berakhir dengan suku kata ja :

Adiraja
Baja
Diraja
Kamboja
Kotapraja
Raja
Sahaja
Saja

Kata yang berakhir dengan suku kata ka :

Bangka
Celaka
Cempaka
Duka
Durhaka
Etika
Jaka
Jangka
Kartika
Kerangka
Luka
Malaka
Mekanika
Murka
Nangka
Nayaka
Peka
Saka
Suka
Terka

Kata yang berakhir dengan suku kata la :

Berhala
Bila
Bola
Cakrawala
Cela
Gala-gala
Gorila
Gula
Pala
Pancasila
Piala
Sangkala

Kata yang berakhir dengan suku kata ma :

Delima
Derma
Diploma
Dogma
Firma
Gema
Huma
Irama
Karisma
Karma
Lima
Koma
Kurma
Nama
Rama-rama

Kata yang berakhir dengan suku kata na :

Betina
Bina
Busana
Buta
Cerna
Cendana
Dana
Dwiwarna
Fana
Fauna
Fenomena
Gerhana
Gulana
Guna
Hina
Ikebana
Istana
Maizena
Pelana
Pidana
Sauna
Savana
Vagina
Wacana
Zona

Kata yang berakhir dengan suku kata pa :

Hampa
Harpa
Jumpa
Limpa
Lupa
Nestapa
Rupa

Kata yang berakhir dengan suku kata ra :

Adipura
Aksara
Bara
Bendahara
Bendera
Cemara
Flora
Gapura
Gembira
Jera
Kamera
Kejora
Kentara
Kura-kura
Lara
Menara
Penjara
Perkara
Pura-pura
Sandera
Saudara

Kata yang berakhir dengan suku kata sa :

Adikuasa
Bahasa
Bangsa
Biasa
Bisa
Busa
Dasa
Dasawarsa
Desa
Jasa
Karsa
Kasa
Kuasa
Laksa
Laktosa
Lensa
Lusa
Mangsa
Paksa

Kata yang berakhir dengan suku kata ta :

Bata
Cipta
Fakta
Fusta
Genta
Harta
Hasta
Hatta
Kacamata
Kanta
Kota
Kusta
Magenta
Pariwisata

Kata yang berakhir dengan suku kata va :

Aktiva
Lava
Larva
Sativa
Viva
Vulva

Kata yang berakhir dengan suku kata wa :

Dewa
Fatwa
Gandarwa
Kecewa
Mahadewa
Margasatwa
Nyawa
Tawa
Tertawa

Kata yang berakhir dengan suku kata ya :

Buaya
Budaya
Cahaya
Daya
Hanya
Karya
Maya
Sahaya
Saya
Tamasya
Upaya

Kata yang berakhir dengan suku kata bi :

Babi
Ebi
Lobi
Hobi
Nabi
Serabi

Kata yang berakhir dengan suku kata ci :

Aci
Banci
Benci
Caci
Guci
Kurcaci
Kuwaci
Laci
Moci
Poci
Sekoci
Suci

Kata yang berakhir dengan suku kata di :

Abadi
Abdi
Adi
Bendi
Budi
Judi
Kemudi
Kendi
Mandi

Kata yang berakhir dengan suku kata fi :

Kata yang berakhir dengan suku kata gi :

Bagi
Lagi
Pagi
Ragi
Segi
Tinggi

Kata yang berakhir dengan suku kata hi :

Dahi

Kata yang berakhir dengan suku kata ji :

Aji
Arloji
Gaji
Gergaji
Imaji
Janji
Kanji

Kata yang berakhir dengan suku kata ki :

Aki
Baki
Daki
Dengki
Kaki
Maki
Teki

Kata yang berakhir dengan suku kata li :

Bali
Beli
Deli
Gali
Geli
Gulali
Jeli
Peduli

Kata yang berakhir dengan suku kata mi :

Alami
Bumi
Cumi
Gurami
Mumi

Kata yang berakhir dengan suku kata ni :

Huni
Juni
Mani
Seni
Tani

Kata yang berakhir dengan suku kata pi :

Api
Kopi
Pipi
Rapi
Rompi
Sapi
Sepi
Tepi
Topi

Kata yang berakhir dengan suku kata ri :

Arteri
Bahari
Baiduri
Beri
Curi
Duri
Lari
Nari
Negeri
Peri
Teri
Veri

Kata yang berakhir dengan suku kata si :

Asi
Admisi
Basi
Besi
Busi
Dasi
Demokrasi
Gusi
Ilusi
Ilustrasi
Inovasi
Kursi
Serasi
Terasi
Variasi

Kata yang berakhir dengan suku kata ti :

Bakti
Belati
Cuti
Ganti
Hati
Mati
Melati
Panti
Peti
Sari Pati

Kata yang berakhir dengan suku kata vi :

Kata yang berakhir dengan suku kata wi :

Duniawi
Kimiawi
Manusiawi
Surgawi

Kata yang berakhir dengan suku kata yi :

Bayi
Rayi
Sunyi

Kata yang berakhir dengan suku kata bu :

Abu
Babu
Bubu
Cumbu
Debu
Ibu
Kelabu
Kelambu
Labu
Tebu

Kata yang berakhir dengan suku kata cu :

Lucu
Manecu

Kata yang berakhir dengan suku kata du :

Adu
Badu
Dadu
Kedu
Sedu

Kata yang berakhir dengan suku kata fu :

Sifu

Kata yang berakhir dengan suku kata gu :

Dungu
Minggu
Tunggu

Kata yang berakhir dengan suku kata hu :

Bahu
Suhu
Tahu

Kata yang berakhir dengan suku kata ku :

Aku
Baku
Bangku
Buku
Daku
Kaku
Laku
Paku
Saku
Suku

Kata yang berakhir dengan suku kata lu :

Alu
Bulu
Dahulu
Dulu
Hulu
Kelu
Palu
Pilu
Malu
Melulu

Kata yang berakhir dengan suku kata mu :

Bertemu
Jamu
Jemu
Kamu
Ramu
Semu

Kata yang berakhir dengan suku kata nu :

Anu
Menu
Panu
Sunu

Kata yang berakhir dengan suku kata pu :

Cepu
Kupu
Tipu

Kata yang berakhir dengan suku kata ru :

Baru
Biru
Buru
Cemburu
Garu
Guru
Haru
Juru
Keliru
Seru
Tiru

Kata yang berakhir dengan suku kata su :

Bisu
Susu
Tisu


Kata yang berakhir dengan suku kata tu :

Batu
Begitu
Katu
Ratu
Sepatu

Kata yang berakhir dengan suku kata vu :

Kata yang berakhir dengan suku kata wu :

Kuwu
Lawu

Kata yang berakhir dengan suku kata yu :

Ayu
Bayu
Dayu
Kayu
Kuyu
Layu
Rayu
Sayu


Kata yang berakhir dengan suku kata as:

Buas
Luas
Puas
Ruas
Tuas

Kata yang berakhir dengan suku kata bas :

Abas
Bebas
Tebas

Kata yang berakhir dengan suku kata cas :

Kata yang berakhir dengan suku kata das :

Adas
Cadas
Cerdas
Pedas
Tindas

Kata yang berakhir dengan suku kata fas :

Nafas
Nifas

Kata yang berakhir dengan suku kata gas :

Migas
Pegas
Satgas
Tugas

Kata yang berakhir dengan suku kata has :

Bahas
Nahas

Kata yang berakhir dengan suku kata kas :

Bekas
Kulkas
Lekas
Markas

Kata yang berakhir dengan suku kata las :

Alas
Culas
Jelas
Kelas
Malas
Pulas

Kata yang berakhir dengan suku kata mas :

Emas
Gemas
Kemas
Lemas
Remas

Kata yang berakhir dengan suku kata nas :

Ganas
Nanas
Panas
Tunas

Kata yang berakhir dengan suku kata pas :

Kipas
Lapas
Lepas

Kata yang berakhir dengan suku kata ras :

Beras
Keras
Miras
Teras

Kata yang berakhir dengan suku kata sas :

Kansas


Kata yang berakhir dengan suku kata tas :

Batas
Beluntas
Kertas
Tas
Tuntas

Kata yang berakhir dengan suku kata vas :

Kanvas
Vas

Kata yang berakhir dengan suku kata was :

Trawas
Was-was

Kata yang berakhir dengan suku kata us :

Kaus
Paus
Saus

Kata yang berakhir dengan suku kata bus :

Rebus
Tebus
Tembus

Kata yang berakhir dengan suku kata cus :

Becus

Kata yang berakhir dengan suku kata fus :

Tyfus

Kata yang berakhir dengan suku kata gus :

Agus
Asparagus
Bagus
Hangus
Sugus

Kata yang berakhir dengan suku kata hus :

Kata yang berakhir dengan suku kata kus :

Kakus
Rakus
Tikus

Kata yang berakhir dengan suku kata lus :

Akal bulus
Lulus
Mulus
Tulus

Kata yang berakhir dengan suku kata mus :

Kata yang berakhir dengan suku kata nus :

Minus
Pinus
Sinus
Venus



Kata yang berakhir dengan suku kata pus :

Lupus
Pupus

Kata yang berakhir dengan suku kata rus :

Jurus
Kurus
Lurus
Terus

Kata yang berakhir dengan suku kata sus :

Kasus
Khusus
Kue sus
Kursus
Usus

Kata yang berakhir dengan suku kata tus :

Kaktus
Ketus
Meletus
Putus
Ratus
Situs
Status

Kata yang berakhir dengan suku kata : yus

Gayus
Jayus

Kata yang berakhir dengan suku kata bes :

Rembes

Kata yang berakhir dengan suku kata tes :

Menetes

Kata yang berakhir dengan suku kata ih :

Buih

Kata yang berakhir dengan suku kata bih :

Lebih

Kata yang berakhir dengan suku kata dih :

Didih
Pedih
Sedih

Kata yang berakhir dengan suku kata rih :

Perih
Sirih

Kata yang berakhir dengan suku kata tih :

Latih
Patih
Putih
Rintih

Kata yang berakhir dengan suku kata puh :

Lumpuh
Tempuh

Kata yang berakhir dengan suku kata bur :

Ubur-ubur
Bubur
Dubur
Kabur
Lebur
Lembur
Sembur
Subur
Tabur
Tambur

Kata yang berakhir dengan suku kata cur :

Cucur
Hancur
Kencur
Lancur
Mancur

Kata yang berakhir dengan suku kata dur :

Undur-undur
Kendur
Mundur
Tidur

Kata yang berakhir dengan suku kata tur :

Atur
Lentur
Luntur
Bentur
Tutur

Kata yang berakhir dengan suku kata sur :

Busur
Kasur

Kata yang berakhir dengan suku kata mur :

Jamur
Jemur
Kumur
Lumur
Mur
Semur
Sumur
Timur
Umur

Kata yang berakhir dengan suku kata nur :

Janur
Benur
Nur
Sanur

Kata yang berakhir dengan suku kata pur :

Dapur
Kapur
Lipur
Lumpur
Tempur

Kata yang berakhir dengan suku kata bar :

Bubar
Gambar
Hambar
Kembar
Ketumbar
Kobar
Lebar
Lembar
Sabar
Sambar
Suku Barbar
Sumbar
Tebar
Umbar

Kata yang berakhir dengan suku kata tar :

Antar
Gemetar
Getar
Gitar
Pintar
Lontar
Putar
Sebentar
Telantar

Kata yang berakhir dengan suku kata mar :

Gemar
Memar
Semar
Kamar
Camar
Cemar
Damar
Lamar
Samar
Lamar

Kata yang berakhir dengan suku kata gar :

Agar
Anggar
Bugar
Cagar
Gegar
Gelegar
Langgar
Pagar
Pugar
Sanggar
Saudagar
Segar
Tegar
Vulgar

Kata yang berakhir dengan suku kata bun :

Embun
Kebun
Rimbun
Sabun
Tambun
Timbun
Ubun-ubun

Kata yang berakhir dengan suku kata lum :

Belum
Kulum
Maklum

Kata yang berakhir dengan suku kata but :

Lembut
Rambut
Bubut
Kabut
Sebut
Gambut
Rebut
Ribut
Cabut
Kebut
Sabut

Kata yang berakhir dengan suku kata cut :

Lucut
Pengecut
Kerucut
Lecut

Kata yang berakhir dengan suku kata kar :

Tukar
Sukar
Mekar
Kekar
Bakar
Akar
Cakar
Dokar
Cikar
Pakar
Lascar
Tikar
Kelakar
Makar
Jangkar
ingkar

Kata yang berakhir dengan suku kata nar :

Benar
Sinar
Nanar
Binar
Dinar
Onar
Tenar
Senar
Lunar

Kata yang berakhir dengan suku kata sar :

Besar
Dasar
Gusar
Selasar
Pasar
Pusar
Sasar
Kasar
Ashar

Kata yang berakhir dengan suku kata bung :

Rebung
Lumbung
Kembung
Tabung
Selubung

Kata yang berakhir dengan suku kata buh :

Kambuh
Imbuh
Sembuh
Subuh
Tabuh
Tubuh
Tumbuh

Kata yang berakhir dengan suku kata tang :

Batang
Datang
Gantang
Kentang
Lintang
Petang
Rentang

Kata yang berakhir dengan suku kata rang :

Arang
Barang
Berang
Carang
Garang
Genderang
Karang
Kerang
Kurang
Larang
Merang
Orang
Parang
Perang
Sarang
Semarang
Serang
Terang

Kata yang berakhir dengan suku kata nung :

Gunung
Renung
Tenung

Kata yang berakhir dengan suku kata dang :

Kendang
Kumandang
Padang
Pandang
Rendang
Sendang
Tendang

Kata yang berakhir dengan suku kata gung :

Agung
Bingung

Kata yang berakhir dengan suku kata nang :

Benang
Kenang
Kunang
Renang
Penang
Senang
Tenang

CONTOH PANTUN


Ke pasar membeli sayur
Duduk di bawah pohon kelapa
Berbicaralah dengan jujur
Niscaya akan dipercaya

Buah apel dari utara
Di hutan banyak cempedak
Ayahku senang tiada tara
Melihat kakek duduk berbedak

Ke Jakarta naik kereta api
Nanti malam pergi ke pasar
Jika ingin menjadi pandai
Kita harus rajin belajar

Janganlah bersembunyi di kolong
Di kolong meja ada hewan
Janganlah engkau menjadi sombong
Orang sombong sedikit kawan

Membuat acar di tengah jalan
Ada orang menuntun sapi
Belajar cuma asal-asalan
Bagai bunga kembang tak jadi

Oleh-oleh dari Sukabumi
Jangan sekedar sepatu sandal
Boleh kita krisis ekonomi
Asalkan jangan krisis moral

Siapa tak suka ikan teri
Mudah disimpan ke dalam kendil
Seketika musang berlari
Dikejar ayam membawa bedil

Jangan dipetik selagi kuncup
Biar tumbuh bersama duri
Menghormati orang tua selagi hidup
Lebih mulia daripada kenduri

Bunga itu jangan dipetik
Langit telah menjadi mendung
Engkaulah gadis tercantik
Kurindukan siang malam

Roda sepeda berputar-putar
Menuju ke arah kota Jakarta
Kalau engkau memang pintar
Hewan apa berkaki lima

Padi merunduk tanda berisi
Kita berilmu karena bersekolah
Janganlah terpaku di depan televisi
Ambil buku dan pelajarilah

Sukailah sayur terong
Terong muda lebih baik
Jika engkau suka berbohong
Engkau termasuk orang munafik

Anton membuat somai
Bu Nita heran seraya berdecak
Penonton bersorak ramai
Melihat kera mengayuh becak

Sebulan tidak berlalu lama
Dia dan aku disebut kami
Tak jadi soal beda agama
Persaudaraan tetap bersemi

Banyak penjual di kota sorong
Tak kutemukan ayam kate
Kakek nenek sudah ompong
Tapi makin suka makan sate

Berbelanja ke Bu Satunah
Buka pagi sampai malam
Janganlah suka membuat fitnah
Fitnah itu amatlah kejam

Makan tahu di tepi jalan
Sambil berlari amat kencang
Wahai para handai taulan
Ikatlah pinggang dengan kencang

Ayo ikut kursus bahasa jawa
Tapi tidak sediakan kopi
Banyak tikus tertawa-tawa
Melihat kucing memakai topi

Orang Afrika berkulit legam
Terantuk batu sebab berlari
Hanya karena telepon genggam
Orang tak malu jadi pencuri

Minum kopi dengan bubur
Matahari sudah tinggi
Kemanapun engkau akan kabur
Pasti akan tertangkap lagi

Buat apa menyetrika
Kalau bajunya masih basah
Buat apa mencari Ika
Kalau hati selalu resah

Ada anak membeli kapas
Yang lain membeli gula jawa
Hatimu putih seperti kapas
Semoga engkau selalu tertawa

Jika di sawah banyak belalang
Kepompong pun dimusnahkan
Jika Arjuna sudah datang
Si Bagong pun dilupakan

Ada kaca terpecah-pecah
Ada nenek minum jamu
Daripada kita marah-marah
Lebih baik menuntut ilmu

Naik sepeda menerjang pagar
Sungguh malu jatuh terjengkang
Zaman sekarang malas belajar
Kelak hidupnya terbelakang

Di bawah pohon ada akar
Hujan jati tak bertemu
Pintar-pintar rajin belajar
Jadi professor impianmu

Burung merpati menari-nari
Bergoyang-goyang di tengah sawah
Sedih rasanya hatiku ini
Mengingat kita akan berpisah

Bunga melati putih warnanya
Harum tetapi tidak berduri
Untuk apa hidup menderita
Mari berdendang menghibur hati

Ibukota Negara di Jakarta
Bandung ibukota Jawa Barat
Tak ada artinya kaya harta
Jika tak beruntung akhirat

Anak bayi belum bergigi
Tapi bisa makan ketupat
Konsumsilah makanan bergizi
Agar tubuh menjadi sehat

Ada tokek memanjat tali
Ada kenek dari Jawa
Sang kakek bermain tali
Sang nenek jadi tertawa

Jika kita makan ubi
Jangan lupa duduk beralas
Jika kita hutang budi
Jangan lupa untuk membalas

Jalan-jalan ke Surabaya
Lihat kadal makan serabi
Mari kawan kita berkarya
Jangan hanya sekedar hobi

Buah manggis buah semangka
Tutupilah dengan kelambu
Kalau ingin Indonesia jaya
Kita semua harus bersatu

Jika belajan membeli sayur
Jangan lupa membeli kelapa
Kita harus belajar jujur
Supaya kita dipercaya

Burung dara burung derkuku
Terbang jauh nun di sana
Betapa hatiku amat rindu
Kepada ayahanda disana

Bunga melati warnanya putih
Di hutan disukai monyet
Hidup ini janganlah bersedih
Mainkan musik kita berjoget

Kulihat kakek minum jamu
Kulihat anjing kejar mengejar
Jika kamu ingin banyak ilmu
Maka rajin-rajinlah kamu belajar

Kulihat ada seekor cicak
Memanjat di pohon kenari
Aku tertawa terbahak-bahak
Melihat nenek menari-nari

Semua manusia punya kaki
Lari dikejar mak lampir
Lihat pemandangan indah sekali
Kita jadi pintar membuat syair

Pergi ke warung membeli nasi
Ke Surabaya naik sepeda
Jadi anak harus berbhakti
Agar disayang orang tua

Paman datang membawa jambu
Berteduh di bawah pohon mangga
Kita harus mencari ilmu
Untuk bekal di hari tua

Gosoklah gigi dengan sikat
Sikat terus sampai berbusa
Jika ingin menjadi sehat
Kita harus berolahraga

Pergi ke pasar membeli sepatu
Beli jeruk naik sepeda
Kita harus selalu bersatu
Menjaga nusa juga bangsa

Di India ada Himalaya
Banyak kawat jadi paku
Kalau engkau benar-benar cinta
Coba tulislah surat untukku

Padi ditanam di tengah sawah
Di sana tidak ada kemumu
Janganlah adik menyimpan susah
Aku selalu mencintai

Semua manusia punya jari
Bukan hanya berjumlah empat
Berolahraga di pagi hari
Membuat badan menjadi sehat

Pagar depan jangan diinjak
Karena memang baru dicuci
Belajar itu memang enak
Apalagi di pagi hari

Ayah ke pasar beli sepatu
Kemudian pergi ke taman
Senang-senanglah kau membantu
Supaya punya banyak teman

Ada mobil mengangkut pintu
Ada delman mengangkat jendela
Senanglah kamu untuk membantu
Agar kamu mendapat fahala

Ada anak makan durian
Sayang tidak ada pisaunya
Aku ingin bepergian
Sayang tidak ada uangnya

Malam minggu pergi ke pasar minggu
Beli kurma naik onta
Jangan lupa shalat lima waktu
Agar kita masuk surga

Burung merpati burung dara
Hinggap di dahan pohon jati
Kalau adik mencintai saya
Mari kita berikrar janji

Buat apa aku punya kuku
Kalau tak tumbuh di jari
Buat apa membeli buku
Kalau tidak dipelajari

Pergi nelayan mencari ikan
Jangan lupa membawa tali
Bekerja memang sangat melelahkan
Jangan sampai lupa diri

Di hutan banyak burung nuri
Burung nuri banyak yang suka
Jangan engkau suka mencuri
Mencuri membuat celaka

Ada gedung sedang terbakar
Isi pen disebut tinta
Semangatlah kalian belajar
Agar tercapai cita-cita

Perempuan menyukai bunga
Sekuntum bunga di atas bangku
Senang-senanglah kamu membaca
Karna buku gudang ilmu

Abdullah membeli semangka
Buah itu akan dimakan
Jangan suka menuduh sesama
Kalau tak bisa membuktikan

Di hutan banyak hewan badak
Di atas rumah banyak tikusnya
Aku tertawa terbahak-bahak
Melihat nenek pakai celana

Air jernih ikannya jinak
Negeri makmur rakyatnya tenteram
Tiada gading yang tak retak
Air beriak tanda tak dalam

Venus itu bintangnya fajar
Jupiter itu planet kelima
Sukseskan program wajib belajar
Sembilan tahun tidaklah lama

Bepergian dengan sepeda
Di jalan menemukan duri
Belajarlah selagi muda
Pasti beruntung di kemudian hari

Ada banyak burung nuri
Seekor hinggap di atas pagar
Belajarlah setiap hari
Hasilnya cepat tanggap dan pintar

Anak bangau turun sepuluh
Mati dua tinggal delapan
Tuntutlah ilmu sungguh-sungguh
Kelak kau tak ketinggalan

Ke Jakarta beli manggis
Di Bali banyak turisnya
Janganlah engkau suka menanggis
Mari belajar bersama-sama

Buat apa makan mentimun
Lebih baik makan nasi
Buat apa duduk melamun
Lebih baik kita mengaji

Jalan-jalan ke Jakarta
Jangan lupa membeli manggis
Rajin-rajinlah engkau bekerja
Jangan Cuma bisa menanggis

Malu bertanya sesat di jalan
Adat tua menanggung ragam
Susah dan senang kita rasakan
Semoga hidup menjadi tentram

Ada buku di bangkumu
Bukunya berwarna merah
Dengarkan penjelasan gurumu
Tidak mengerti bertanyalah

Di hutan banyak burung elang
Terbang melintasi lapangan
Janganlah engkau berlaku curang
Curang merusak persahabatan

Anak ini bernama Cica
Ia senang membaca di kelas
Budayakan gemar membaca
Bacaan sumber ilmu yang luas

Burung bangau di batu cadas
Kupu-kupu sudah cukup umur
Kalau engkau memang cerdas
Dulu mana ayam dan telur

Sepatu sandal hilang sebelah
Sudah dicari tidak ketemu
Tekun belajar selagi muda
Sebanyak mungkin tuntutlah ilmu

Hewan ini tidak berkaki
Hewan itu memang berbisa
Janganlah engkau suka memaki
Karna itu perbuatan dosa

Rumput ilalang bergoyang-goyang
Tertiup angin kesana
Mari kita tunaikan sembahyang
Bekal kita di akahirat nanti

Jalan kaki mendaki gunung
Anak ayam hilang induknya
Jangan biasakan termenung
Termenung tiada gunanya

Amat jauh di ujung kali
Tokek merayap di atas palu
Melihat nenek bermain tali
Kakek tertawa tersipu malu

Jangan suka makan mentimun
Mentimun itu banyak getahnya
Jangan suka duduk melamun
Melamun itu banyak susahnya

Ke Surabaya beli keledai
Keledai lari harus dikejar
Kita harus jadi anak pandai
Syaratnya harus giat belajar

Pukul lima pergi ke Jakarta
Ada orang berbaju coklat
Patuhilah nasihat orang tua
Kan terhindar dari kualat

Pukul enam pergi ke Jakarta
Melihat orang berbaju merah
Saya senang belajar bahasa
Daripada saya marah-marah

Buah manggis rasanya manis
Buah papaya di kebun saya
Apa kabar adik yang manis?
Apa sudah ada yang punya?

Beli salak di dekat pasar
Salak itu murah harganya
Jadi anak rajin belajar
Kelak engkau banyak ilmunya

Haling layu keringlah sudah
Tak lama lagi akan mati
Rajinlah-rajinlah beribadah
Beribadah tentramkan hati

Buat apa punya sagu
Kalau tidak bisa dimakan
Buat apa punya ilmu
Kalau tidak diamalkan

Di buku IPA ada gerak semu
Di buku sejarah ada hal arca
Jika kita ingin berilmu
Senang dan giatlah membaca

Ke Palu beli buah-buahan
Ke Jakarta mencari sedekah
Semua ingin disayang Tuhan
Jadilah anak yang salehah

Karena kuda ada kursinya
Penumpang banyak sekali
Saya senang belajar bersama
Daripada melamun diri

Buah asam masam rasanya
Diberi gula menjadi manis
Walau dia jelek wajahnya
Tetapi mahir bahasa Inggris

Jalan-jalan ke Negara Kenya
Bawa oleh-oleh dari pasar
Sopir bajaj gendut perutnya
Tapi sayang pantatnya besar

Planet Mars berwarna merah
Sungguh indah walau di luar
Daripada kita marah-marah
Lebih baik kita belajar

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kamila. 2009. Kumpulan Pantun. Abu_Dillah.tripod.com
Aribawo. 2005. Pantun dan Syair dalam Kesusastraan Melayu Klasik. Multiply Blog Spot
Ensiklopedia Bebas. 21 Agustus 2009. Pantun. Wikipedia Bahasa Indonesi

Tuesday, July 26, 2011

Kelelawar

Kelelawar baru hinggap di pohon jambunya
Sembunyi dari petani yang pemarah
Kelelawar mengharap bermimpi kedamaian tanpa bencana
Hingga berkepak dengan sendirinya.

Friday, May 20, 2011

MODEL PEMBELAJARAN SASTRA

Oleh : Sri Winarni, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Trawas Mojokerto

Kemampuan membuat desain pembelajaran merupakan fokus kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yang professional. Karena kemampuan mendesain pembelajaran sangat berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas guru di lapangan sebagai pemegang kendali proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.
Tidak ada metode pembelajaran sastra yang demikian sempurna, oleh karena itu seorang guru diharapkan untuk mampu memilah dan memilih serta menetukan media dan metode pembelajaran yang paling relevan dengan tujuan dan situasi yang dihadapi di kelas.
Pembelajaran sastra dilakukan dalam konteks keterampilan berbahasa yang menggunakan materi sastra. Ada beberapa model atau teknik pembelajaran sastra yang dapat digunakan, salah satunya yaitu Model Pembelajaran Sastra Tabel Kesan Tokoh. Dalam model pembelajaran sastra ini, siswa diajarkan dan dilatih menggambarkan kesan tokoh dalam bentuk tabel.
Yang dimaksud dengan Kesan tokoh yaitu para tokoh yang sudah diidentifikasi lalu digambarkan sifat, watak, perangai atau kebiasaan yang baik maupun yang buruk. Misalnya, sabar, penyayang, jahat, sombong, kikir, loba, pemerah, pendendam, dsb. Selain itu, peserta didik juga mengungkapkan pendapatnya, apakah ia suka atau membenci watak tokoh-tokoh tertentu. Akan tetapi siswa tidak melakukan perubahan tokoh, latar, atau pun alur cerita. Untuk pemilihan metode dan media pembelajarannya tergantung pada situasi pembelajaran yang diinginkan dan relevansinya dengan tujuan pembelajaran.

Langkah-langkah model pembelajaran sastra kesan tokoh adalah sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran / KD.
2. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok beranggotakan 3-4 siswa.
3. Guru menjelaskan secara singkat bagaimana menggambarkan kesan tokoh dari sebuah cerita.
4. Guru menyiapkan Lembar Kerja (LK) berupa teks cerita sejumlah kelompok lalu dibagikan.
5. Setiap kelompok mengerjakan tugas LK sesuai petunjuk guru yaitu menuliskan kesan
tokoh dari sebuah cerita dalam bentuk tabel.
6. Setelah selesai, guru menunjuk salah satu kelompok untuk menampilkan / membacakan hasil pekerjaannya.
7. Setiap satu kelompok selesai langsung diberi aplaus lalu giliran kelompok lain. Demikian seterusnya sampai seluruh kelompok tampil membacakan hasil pekerjaannya.
8. Evaluasi.
9. Kesimpulan.

Contoh Tabel Kesan Tokoh
No. Nama Tokoh Sifat / Watak Kesanmu Pendapatmu
Baik Tidak Baik
1. A
2. B
3. C
4. D … dst.

Ini hanya salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan oleh semua guru bahasa. Semoga artikel ini dapat menambah khasanah pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran sastra sehingga pembelajaran bahasa Indonesia yang dirancang lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang, namun juga menyenangkan bagi peserta didik. Amin. (Wien’s)

Thursday, March 10, 2011

MEDIA PEMBELAJARAN KOTAK HURUF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Media pembelajaran adalah suatu alat yang dapat membantu siswa supaya terjadi proses belajar. Dengan menggunakan media pembelajaran diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman nyata, sehingga materi pelajaran yang disampaikan dapat diserap dengan mudah dan lebih baik.
Berikut ini adalah salah satu contoh media pembelajaran yang dapat dibuat dan digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penulis sudah mempraktikkan media pembelajaran ini dan hasilnya sangat bagus. Siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Proses pembelajaran menjadi menyenangkan.

DESKRIPSI MEDIA PEMBELAJARAN KOTAK HURUF
Nama Media : Kotak Huruf
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : IX / Ganjil
Bentuk Media : Sebuah Kotak Bertuliskan Huruf Awal dari opini yang ada di
dalamnya
Standar Kompetensi : Membaca intensif opini surat kabar
Kompetensi Dasar : Menemukan gagasan utama dalam opini surat kabar
Indikator : Mampu memahami pokok-pokok berita
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit (1 pertemuan)
Alat dan Bahan : Gunting, Double tape, Kamera digital, Kotak warna-warni,
Guntingan opini dari Koran.

PROSEDUR PEMBUATAN

1. Persiapan alat dan bahan.Gunting, Double Tape, Kamera Digital
2. Menggunting opini dari Koran.
3. Membuat pertanyaan tentang gagasan utama yang terdapat dalam opini.
4. Memasukkan guntingan opini dan pertanyaan ke dalam kotak.
5. Menuliskan huruf pada sisi kotak sesuai dengan huruf awal pertanyaan dalam kotak.

CARA PENGGUNAAN MEDIA

1. Mengkondisikan siswa
2. Memberi pengantar tentang langkah dan tujuan pembelajaran serta peranan
penggunaan media.
3. Membagikan kotak warna-warni yang telah diisi pertanyaan dan ditulisi huruf.
4. Tiap siswa membaca soal yang ada di dalam kotak dan menjawabnya.
5. Setelah selesai, jawaban dimasukkan ke dalam kotak kembali dan diberikan kepada
teman sebangkunya untuk ditanggapi.
6. Hasil tanggapan dimasukkan bersama jawaban dari kelompok lain ke dalam kotak dan
diserahkan kepada guru.

Kemampuan membuat dan menggunakan media pembelajaran merupakan fokus kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yang benar-benar profesional. Alasannya, kemampuan mendesain pembelajaran sangat berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas guru di lapangan sebagai pemegang kendali proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.
Media Pembelajaran Kotak Huruf dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia sangat cocok karena sudah memenuhi kriteria pemilihan media yaitu : (1) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. (2) Dukungan terhadap isi bahan pengajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa. (3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. (4) Keterampilan guru menggunakannya, artinya secanggih apapun sebuah media apabila tidak tahu cara menggunakanya maka media tersebut tidak memiliki arti apa-apa. (5) Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siwa selama pengajaran berlangsung. (6) Memilih media pembelajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa. (Ditjen PMPTK, 2008 : 7-8).
Tidak ada media pembelajaran yang sempurna, maka seorang guru diharapkan mampu memilah dan memilih serta menentukan media dan metode pembelajaran yang paling relevan dengan tujuan dan situasi yang dihadapinya di kelas sehingga pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang dan juga menyenangkan. (Wien’s)

Oleh : Sri Winarni, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia UPTSP SMPN 2 Trawas
Email : wienskayun@yahoo.com

Friday, March 04, 2011

Kisah Ulat, Kepompong, dan Kupu-Kupu

Pagi itu, aku mengajar di kelas IXA. Aku sengaja tidak memberikan materi pelajaran Bahasa Indonesia. Karena hari ini aku hanya ingin bercerita dengan siswa-siswaku. Setelah mengecek kehadiran dan mengisi jurnal kelas, aku memulai pembicaraan dengan siswa-siswaku. Hari ini aku mengambil topik ulat, kepompong, dan kupu-kupu.
“Siapa yang tahu ulat…?” Tanyaku.
“Saya Bu.” Jawab siswaku serempak.
“Ya, Semua orang pasti tahu ulat. Apa pendapat kalian tentang ulat?” Tanyaku kemudian.
“Hiiiii….. menjijikan, Bu.” Jawab salah seorang siswa.
“Ulat adalah binatang perusak, Bu.” Jawab siswa yang lain.
“Ya, benar. Kalau kita bicara tentang ulat, yang ada dalam benak kita pastilah sesuatu yang menjijikan, binatang perusak, dan selalu memakan tanaman yang telah kita pelihara dengan baik. Karena ulat tanaman kita jadi rusak. Daunnya berlubang-lubang. Setiap orang pasti bergidik dan tidak mau memegang ataupun hanya sekedar memandanginya.” Tegasku. Kuperhatikan siswaku satu per satu. Sepertinya mereka heran, kenapa aku berbicara masalah ulat yang tidak ada hubungan sama sekali dengan pelajaran yang biasa aku ajarkan. “Akan tetapi, apakah kalian pernah berfikir seandainya ulat itu bisa berbicara, kira-kira apa yang mereka katakan?” Tanyaku yang membuat mereka jadi semakin penasaran.
“ Seandainya ulat bisa bicara, saya yakin ulat itu pasti berkata, “Tolonglah tumbuhan, ijinkan aku memakanmu sedikit demi sedikit, sampai aku tumbuh menjadi besar, lalu aku berubah menjadi kepompong, dan setelah beberapa saat aku akan berubah jadi kupu-kupu. Maka sebagai balasan atas jasamu, aku akan menyiangimu sampai kau bisa berbuah. Bagaimana tumbuhan? Setuju bukan? Ya, memang, daunmu akan berlubang-lubang.” Jawab seorang siswa dengan wajah memelas. Semua siswa tertawa mendengarnya.
“Iya, benar. Tahukah kalian, tanpa kita sadari, sebenarnya fase hidup ulat menggambarkan sekilas dari kehidupan kita. Kita pasti pernah berada pada ‘posisi’ ulat. Kita sering dihina, ditendang, dan dicaci maki. Jika ada orang yang melihat kita, mereka seolah ingin membunuh kita, mereka seolah berharap bahwa kita tidak pernah dilahirkan. Bagaimana sikap kita terhadap perlakuan seperti itu? Proaktifkah? Atau reaktif?” Aku semakin bersemangat karena melihat tanggapan dari siswa-siswaku.
“Maksud, Ibu?” Tanya seorang siswa.
“Begini. Coba kita contoh ulat. Tujuan hidup ulat adalah untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Yang pada akhirnya menyiangi tumbuh-tumbuhan sehingga tumbuhan tersebut berbuah dan berguna bagi kita manusia. Ya, kita sudah seharusnya bertahan dari semua yang menyerang. Sikap kita terhadap hiduplah yang menentukan, akan kemana kita pergi. Semua yang datang dari luar hanya berpengaruh 10% saja. Ya, kita akan terus bertahan dari badai hidup dunia ini sampai pada akhirnya kita sampai pada fase dimana kita harus “beristirahat”. Lelah luar biasa menghampiri kita. Kita harus merenung bukan meratap. Menyingkir dari dunia barang sejenak bukan melarikan diri. Inilah yang disebut fase kepompong, anak-anakku.” Aku perhatikan sebagian siswaku manggut-manggut dan sebagian lagi seperti orang kebingungan.
“Fase kepompong, Bu? Maksudnya, Bu?” Tanya seorang siswa.
“Anak-anak, pada fase kepompong ini merupakan saat yang paling penting bagi hidup kita. Karena disinilah karakter kita yang sesungguhnya tengah diuji. Apakah kita pemenang atau pecundang? Kita ‘menggeliat’ dalam pikiran. Kita bergumul, bergumul, dan bergumul. Disinilah si ulat-kepompong memutuskan, ‘ya saya tahu tujuan hidup saya, yaitu untuk menjadi kupu-kupu, saya harus keluar dari ‘kepompong’ ini.’ Ya, secercah cahaya dari lubang kecil yang dilihatnya itu memberikan harapan kepadanya. Dia berusaha menerobos keluar. Sulit. Terlalu kecil. Dia berusaha sekuat tenaga. Setengah mati. Bahkan hampir mati. Tetapi ia tahu, pada cahaya tersebut, tujuan hidupnya akan tercapai. Ia terus berusaha. Dan akhirnya berhasil.”
“Si Kepompong lahir sebagai kupu-kupu kan, Bu?” Tanya seorang siswa dengan antusias.
“Benar sekali, udara segar berhasil dihirupnya. Ia terbang kesana-kemari. Ia segera mencari tumbuh-tumbuhan yang dulu ia makan daunnya sebagai ulat. Ia siangi tumbuhan tersebut seolah berkata, ‘Terima kasih tumbuhan yang baik karena engkau,aku bisa mencapai tujuan hidupku. Untuk itu giliran aku yang membantu kamu. Aku siangi tubuhmu hingga kamu tumbuh subur dan berbuah sehingga kamu pun mencapai tujuan hidup kamu. Yaitu menghasilkan udara segar bagi dunia yang indah ini dan memberikan makanan bagi manusia yang merawat bumi ini.’” Aku begitu bersemangat melanjutkan ceritaku. “Anak-anak, seandainya kalian melihat kepompong, dimana seekor kupu-kupu sedang mencoba keluar dari kepompong tersebut, apa tindakan kalian?” Aku mencoba bertanya kepada siswa-siswaku.
“Saya akan membantu kupu-kupu tersebut untuk keluar dengan cara menggunting kepompongnya, Bu.” Celetuk seorang siswa.
“Saya akan melihatnya sampai kupu-kupu itu keluar, Bu.” Jawab siswa yang lain.
“Baiklah, ada dua pendapat. Kira-kira pendapat siapa yang benar?” Tanyaku kemudian. Semua siswa terdiam.
“Jika kita membantu dengan cara menggunting kepompong tersebut, si kupu-kupu pasti akan keluar, tetapi tahukah apa yang terjadi kemudian? Kupu-kupu tersebut keluar dan segera mati.” Kataku menjelaskan.
“ Kenapa, Bu? Saya kan berniat baik. Saya memberi jalan pintas. Kasian kan?” Sela seorang siswa.
“Kenapa? Jawabnya adalah karena perjuangan kupu-kupu tersebut untuk keluaar dari kepomponglah yang membuat ia kuat. Perjuangan tersebut yang membuat sayap-sayapnya kuat. Jalan pintas hanya membuat ia lemah dan hanya mampu merayap di tanah kemudian mati.” Sambungku. Kuperhatikan seluruh siswa semakin antusias menunggu kelanjutan ceritaku. Jadi Lebih baik, kita saksikan saja perjuangannya. Kupu-kupu yang berhasil keluar setelah melalui perjuangan yang sangat berat, akhirnya kupu-kupu itu tampil dengan pakaian yang sangat mewah. Pakaian kupu-kupu tersebut seolah hadiah dari Tuhan untuk menghargai perjuangan hidupnya. Untuk menghibur hatinya karena penghinaan yang ia terima sebagai ulat. Seolah-olah mahkota kemenangan baginya karena ia telah berhasil dalam perjuangan hidupnya mengejar tujuan yang sudah dirancang baginya.” Lanjutku.
“Lantas apa hubungan antara cerita ibu dengan kita, Bu?” Tanya seorang siswa penasaran.
“Pertanyaan yang sangat bagus, Nak. Sebagai manusia kita sering mengalami hal-hal sulit. Misalnya : masalah keuangan, karier, penghianatan, penghinaan, pelecehan, kehilangan orang tua, saudara, kekasih, dan lain sebagainya. Semua itu membuat kita stress dan frustasi. Kadang kita pun membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita pasti pernah mengalami semua itu. Tetapi kita pun harus yakin bahwa kita akan bertahan. Karena kita diciptakan Allah, SWT sebagai pemenang, bukan pecundang. Semua hal tersebut ‘ada’ dan ‘terjadi’ pada kita untuk membuat kita kuat. Ya, kuat. Kuat untuk ‘menyiangi’ dunia ini. Kuat secara mental untuk menerima kemakmuran yang sudah Allah SWT sediakan bagi kita. Kuat untuk menjadi berkah bagi sesama manusia. Jadi jika kita mengalami hal tersebut, bertahanlah. Allah SWT tidak akan diam. Ia selalu bersama kita di saat kita berada dalam fase ‘kepompong hidup’ kita. Cahaya yang kita lihat sebagai pembimbing untuk keluar itu adalah cahaya kemuliaanNya. Ia menunggu kita diujung cahaya sambil berkata, ‘Berjuanglah, sedikit lagi, kamu pasti bisa, ayo berjuanglah terus.’” Kulihat semua siswaku terdiam .
Tiba-tiba….“Tet… tet…tet…” Terdengar suara bel istirahat berbunyi.
“Nah anak-anak, untuk sementara sampai disini dulu cerita ibu, lain kali kita teruskan dengan cerita yang lain pula. Selamat siang anak-anak.” Hari ini sudah banyak yang aku lakukan buat siswa-siswaku, semoga ceritaku kali ini bisa menjadi pegangan hidup mereka dan juga diriku. Amin. (Wien)

Tutorial Pengelolaan Google Classroom